Krisis Timbal Ancam IQ Anak RI
- 22 Jan 2026 23:47 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Indonesia kini menghadapi tantangan besar dalam kesehatan publik terkait paparan timbal (plumbum), terutama pada anak-anak. Berdasarkan hasil Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) yang diumumkan pemerintah, rata-rata 1 dari 7 anak di Indonesia memiliki kadar timbal dalam darah di atas ambang aman (5 µg/dL) yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Temuan ini mengundang kekhawatiran serius karena timbal berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak secara permanen.
Hasil SKTD Tahap Pertama juga menunjukkan bahwa paparan timbal tidak hanya bersifat acak, melainkan terkait sejumlah faktor risiko lingkungan rumah tangga. Anak-anak yang tinggal di rumah dengan cat terkelupas memiliki risiko 61% lebih tinggi memiliki kadar timbal darah di atas 25 µg/dL dibandingkan yang tidak. Kondisi ini dicatat dari surveilans yang dilakukan sepanjang Mei–November 2025 di enam provinsi di Indonesia.
Lebih lanjut, surveilans ini melibatkan pemeriksaan kadar timbal darah 1.617 anak usia 12 – 59 bulan di 12 lokasi. Temuan lain menunjukkan bahwa pekerjaan orang tua yang berkaitan dengan timbal, seperti pekerjaan di pabrik cat atau bengkel, serta penggunaan alat masak berbahan logam atau kosmetik tertentu, dapat meningkatkan kadar timbal darah anak sekitar 7 – 10% lebih tinggi dibandingkan anak tanpa paparan serupa.
Surveilans juga mengidentifikasi bahwa lebih dari 20% sampel barang rumah tangga termasuk alat masak logam, alat makan keramik dan plastik, kosmetik, serta mainan anak mengandung timbal di atas ambang batas aman. Selain itu, setiap kenaikan dua kali lipat kadar timbal di tanah di lingkungan rumah berkaitan dengan peningkatan rata-rata kadar timbal darah anak sebesar 8%.
Para ahli kesehatan menjelaskan bahwa paparan timbal berbahaya karena anak menyerap zat ini jauh lebih cepat daripada orang dewasa, dan efeknya sering tidak menunjukkan gejala klinis pada tahap awal. Dampak kronis paparan timbal dapat berupa gangguan perkembangan neurologis, penurunan IQ, kesulitan belajar, serta masalah kesehatan lainnya yang bisa menetap seumur hidup. Temuan ini sejalan dengan laporan global yang menunjukkan bahwa paparan timbal pada anak dapat menurunkan fungsi kognitif bahkan pada level rendah sekalipun.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Dr. Then Suyanti, menekankan bahwa data kadar timbal darah dan identifikasi sumber paparan sangat penting sebagai dasar penyusunan kebijakan publik yang lebih efektif. Tanpa data yang akurat, intervensi pencegahan dan pengendalian paparan timbal akan sulit diukur keberhasilannya.
Melihat temuan ini, pemerintah bersama mitra seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Vital Strategies, dan Yayasan Pure Earth Indonesia mendorong strategi penanganan lintas sektor. Langkah ini mencakup penguatan sistem surveilans, edukasi masyarakat, serta kebijakan pengurangan bahan berisiko dalam produk rumah tangga. Tujuannya adalah melindungi generasi mendatang dari bahaya paparan timbal yang bisa menghancurkan potensi kesehatan dan masa depan anak Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....