Penumpukan Cairan di Paru-Paru, Waspada Efusi Pleura

  • 19 Sep 2025 09:48 WIB
  •  Bogor

KBRN, Bogor: Efusi pleura merupakan salah satu masalah kesehatan yang kerap luput dari perhatian masyarakat. Penyakit ini terjadi ketika terdapat penumpukan cairan abnormal pada rongga pleura, yakni ruang tipis antara paru-paru dan dinding dada. Meskipun kerap disamakan dengan paru-paru basah, keduanya sebenarnya berbeda.

Dilansir dari website www.halodoc.com Jika paru-paru basah disebabkan oleh infeksi yang menimbulkan peradangan pada alveoli, efusi pleura justru berhubungan dengan gangguan aliran cairan dalam rongga pleura. Normalnya, cairan dalam jumlah sedikit memang dibutuhkan untuk melumasi pergerakan paru saat bernapas. Namun, jika cairan menumpuk berlebihan, kondisi ini bisa menimbulkan gejala serius.

Efusi pelura dapat disebabkan oleh berbagai kondisi media. Gagal jantung kongestif, penyakit ginjal, sirosis hati, hingga infeksi seperti pneumonia dan tuberkulosis, merupakan beberapa penyebab paling umum. Selain itu, kanker paru-paru maupun kanker yang menyebar ke pleura juga kerap menjadi pemicu. Faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami efusi pleura antara lain hipertensi, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, hingga paparan debu asbes. Protein rendah dalam darah akibat penyakit hati atau ginjal, serta pengobatan kanker seperti terapi radiasi, juga bisa memicu terjadinya kondisi ini.

Pada tahap awal, banyak penderita tidak menyadari adanya efusi pleura karena gejalanya tidak langsung muncul. Kondisi ini sering kali terdeteksi secara tidak sengaja melalui pemeriksaan rontgen dada. Namun, jika cairan sudah menumpuk cukup banyak, gejala yang dapat timbul meliputi:

  • Sesak napas, terutama saat berbaring
  • Batuk kering
  • Nyeri dada saat bernapas
  • Demam dan napas terengah-engah

Dokter biasanya mendiagnosis efusi pleura dengan wawancara medis, pemeriksaan fisik, hingga pemeriksaan penunjang seperti rontgen dada, CT-scan, ultrasonografi, atau punksi pleura (thoracentesis). Pengobatan dilakukan sesuai dengan penyebabnya. Jika disebabkan oleh infeksi, antibiotik akan diberikan. Pada kasus kanker, pengobatan dapat berupa kemoterapi atau radioterapi. Beberapa prosedur medis juga kerap dilakukan, antara lain thoracentesis untuk mengeluarkan cairan, pemasangan selang dada, drainase pleura jangka panjang, hingga pleurodesis untuk mencegah kekambuhan.

Efusi pleura yang tidak ditangani dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti atelektasis (paru-paru kolaps), empiema (penumpukan nanah di rongga pleura), pneumotoraks (udara di rongga pleura), hingga penebalan pleura yang mengganggu fungsi paru-paru. Pakar kesehatan paru menegaskan, deteksi dini menjadi kunci pencegahan dampak buruk efusi pleura. Masyarakat diimbau segera memeriksakan diri jika mengalami keluhan sesak napas, batuk kering yang tidak kunjung reda, atau nyeri dada yang muncul saat bernapas. Efusi pleura memang bisa diatasi, tetapi jika dibiarkan, kondisinya dapat berujung pada kerusakan paru-paru permanen. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat untuk mengenali gejala dan menjalani pemeriksaan medis sangatlah penting. (MayCin)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....