Telapak Kaki Berlubang! Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Kaki
- 06 Jan 2025 13:59 WIB
- Bogor
KBRN, Bogor : Pitted keratolysis adalah salah satu penyakit kulit yang menyerang area kaki. Kondisi ini menyebabkan munculnya lubang-lubang kecil pada kulit telapak kaki dan bau yang tidak sedap. Meski sering terjadi pada telapak kaki, pitted keratolysis juga dapat berkembang di telapak tangan.
Dilansir dari siloamhospitals.com bahwa Pitted keratolysis disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti:
- Corynebacteria
- Actinomyces
- Dermatophilus congolensis
- Kytococcus sedentarius
- Streptomyces
Bakteri ini tumbuh subur di lingkungan hangat dan lembap, seperti kaki yang sering tertutup sepatu oklusif atau kaus kaki ketat tanpa ventilasi yang baik. Infeksi terjadi karena bakteri ini menghasilkan enzim proteolitik yang menghancurkan keratin di lapisan terluar kulit, menyebabkan lubang-lubang kecil yang khas. Selain itu, bau tidak sedap muncul akibat senyawa yang dilepaskan bakteri saat mendegradasi protein keratin pada kulit.
Faktor risiko utama meliputi:
- Penggunaan Sepatu Oklusif. Sepatu ini menciptakan lingkungan lembap dan hangat bagi bakteri untuk berkembang biak.
- Profesi Tertentu. Altet, petani, pekerja industri, atau anggota militer yang memiliki aktivitas fisik tinggi lebih rentan mengalami kondisi ini.
- Kurang Menjaga Kebersihan Kaki. Kebiasaan tidak menjaga kebersihan kaki mempermudah infeksi.
- Hiperhidrosis. Kondisi yang menyebabkan produksi keringat berlebih.
- Keratoderma. Penebalan kulit pada telapak kaki atau tangan.
Pencegahan pitted keratolysis memerlukan perhatian terhadap kebersihan kaki dan pengelolaan kelembapan. Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan:
- Menjaga Kebersihan Kaki
- Gunakan Sepatu dan Kaus Kaki yang Tepat
- Mengatasi Keringah Berlebih dengan menggunakan bedak antikeringat atau segera konsultasikan ke dokter
- Hindari Sepatu Oklusif, batasi penggunaan sepatu boot karet dalam waktu lama.
Jika terlanjur terkena pitted keratolysis, pengobatan difokuskan untuk menghilangkan infeksi bakteri. Dokter biasanya meresepkan antibiotik topikal, seperti klindamisin, eritromisin, asam fusidat, atau mupirocin. Antiseptik seperti gel atau krim benzoil peroksida juga dapat membantu membersihkan infeksi.
Pada pasien dengan hiperhidrosis, dokter mungkin menyarankan perawatan tambahan untuk mengendalikan keringat, guna mencegah kekambuhan. Jika Anda memiliki alergi terhadap antibiotik tertentu, penting untuk memberitahukan kepada dokter agar pengobatan dapat disesuaikan. (MayCin)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....