Ilmuwan Temukan Cara Ubah Ampas Kopi Menjadi Beton Lebih Kuat
- 01 Sep 2026 20:23 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Secangkir kopi ternyata tak selalu menyisakan limbah yang berakhir di tempat sampah. Ampas kopi yang selama ini dianggap tidak berguna justru berpotensi menjadi bahan alternatif dalam industri konstruksi. Peneliti dari RMIT University, Australia, menemukan bahwa ampas kopi yang diproses menjadi biochar dapat meningkatkan kekuatan beton hingga sekitar 30 persen.
Dikutip dari ScienceAlert, temuan tersebut menjadi menarik di tengah persoalan limbah kopi global yang terus bertambah. Setiap tahun diperkirakan sekitar 10 miliar kilogram limbah kopi dihasilkan di seluruh dunia. Sebagian besar masih berakhir di tempat pembuangan akhir dan berpotensi menghasilkan emisi gas rumah kaca. Insinyur RMIT University, Rajeev Roychand, mengatakan pemanfaatan limbah organik dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi dampak lingkungan. “Pembuangan limbah organik menimbulkan tantangan bagi lingkungan karena menghasilkan sejumlah besar gas rumah kaca,” kata Roychand.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Cleaner Production tersebut tidak mencampurkan ampas kopi begitu saja ke dalam beton. Bahan organik harus terlebih dahulu menjalani proses pirolisis, yakni pemanasan dengan pasokan oksigen yang sangat terbatas. Tim peneliti memproses ampas kopi pada suhu lebih dari 350 derajat Celsius hingga menghasilkan material berpori kaya karbon yang disebut biochar. Material inilah yang kemudian dicampurkan ke dalam beton untuk memperkuat ikatan di dalam matriks semen.
Menariknya, suhu pemrosesan ternyata turut menentukan kualitas biochar. Ketika ampas kopi dipanaskan hingga 500 derajat Celsius, material yang dihasilkan justru memiliki kekuatan lebih rendah dibandingkan biochar yang dibuat pada suhu sekitar 350 derajat Celsius. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah sebagai material konstruksi membutuhkan proses pengolahan yang tepat, bukan sekadar mencampurkan limbah ke dalam bahan bangunan.
Selain persoalan sampah, inovasi ini juga berkaitan dengan masalah kebutuhan bahan baku konstruksi. Industri beton membutuhkan pasir dalam jumlah besar, sementara penambangan pasir secara terus-menerus dapat memberikan tekanan terhadap lingkungan. Insinyur RMIT Jie Li menilai pemanfaatan limbah dapat menjadi bagian dari pendekatan ekonomi sirkular. “Kita dapat mencegah limbah organik berakhir di tempat pembuangan akhir sekaligus membantu menjaga sumber daya alam seperti pasir,” ujar Li, dikutip dari ScienceAlert.
Meski hasil awal menjanjikan, teknologi tersebut belum dapat langsung diterapkan secara luas. Para peneliti masih menguji daya tahan beton yang menggunakan biochar ampas kopi, termasuk menghadapi siklus pembekuan dan pencairan, penyerapan air, abrasi, serta berbagai tekanan. Pengujian jangka panjang diperlukan untuk memastikan material tersebut tetap kuat dan aman digunakan dalam kondisi nyata.
Tim RMIT juga memperluas penelitian dengan mengembangkan biochar dari berbagai jenis limbah organik lainnya, seperti kayu, sisa makanan, dan limbah pertanian. Peneliti Shannon Kilmartin Lynch menyebut riset tersebut masih berada pada tahap awal, tetapi membuka peluang pemanfaatan limbah sebagai sumber material baru. Pendekatan ini juga terinspirasi prinsip Caring for Country yang menekankan pentingnya menjaga siklus material agar tetap berkelanjutan.
Jika pengembangan dan pengujian lanjutan menunjukkan hasil positif, ampas kopi bukan lagi sekadar sisa dari aktivitas minum kopi. Limbah tersebut berpotensi masuk ke dalam rantai produksi material konstruksi sekaligus membantu mengurangi tekanan terhadap tempat pembuangan akhir dan sumber daya alam. Dari secangkir kopi yang sederhana, muncul peluang untuk membangun beton yang lebih kuat sekaligus mendorong praktik pembangunan yang lebih ramah lingkungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....