Beragam Praktik Dorong Pertanian Padi Berkelanjutan Indonesia
- 24 Agt 2026 15:40 WIB
- Bogor
Poin Utama
- Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) yang tergabung dalam Konsorsium Beras Tangguh bersama Tani dan Nelayan Center IPB University menggelar webinar
- Forum ini menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus mempertemukan praktik petani dengan pandangan akademisi dan arah kebijakan pertanian berkelanjutan.
- Koordinator Nasional KRKP, Said Abdullah atau yang akrab disapa Ayip, menekankan pentingnya mengakui keberadaan praktik-praktik lokal
RRI.CO.ID, Bogor - Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) yang tergabung dalam Konsorsium Beras Tangguh bersama Tani dan Nelayan Center IPB University menggelar webinar bertajuk “Beragam Jalan Menuju Pertanian Padi Berkelanjutan: Pembelajaran dari Petani, Tanggapan Ilmiah, dan Arah Dukungan Kebijakan”. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 13 Agustus 2026 secara daring tersebut diikuti sekitar 859 peserta melalui Zoom. Forum ini menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus mempertemukan praktik petani dengan pandangan akademisi dan arah kebijakan pertanian berkelanjutan.
Koordinator Nasional KRKP, Said Abdullah atau yang akrab disapa Ayip, menekankan pentingnya mengakui keberadaan praktik-praktik lokal yang telah berkembang sebelum istilah pertanian berkelanjutan populer digunakan. Menurutnya, pendekatan seperti pertanian organik, bio-intensif, pertanian alami hingga Sawah Pokok Murah telah menunjukkan upaya petani dalam mencari cara budidaya yang lebih berkelanjutan. “Sebelum hadirnya diksi pertanian berkelanjutan, sudah ada praktik-praktik seperti organik, bio-intensif, alami maupun sawah pokok murah,” ujarnya.
Pengalaman di tingkat petani kemudian disampaikan Wardiyono, Ketua Sanggar Tani Klaten, yang mendorong penerapan pertanian alami. Ia menjelaskan bahwa perubahan menuju sistem tersebut tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga menghadapi berbagai persoalan di lapangan. Hama dan penyakit tanaman, meningkatnya biaya operasional, keuntungan petani yang belum memadai, hingga rendahnya ketertarikan generasi muda terhadap profesi petani menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian. Sementara itu, Tamrin Khamidi, salah satu penggerak pertanian bio-intensif di Tegal, membagikan praktik pembuatan teh kompos dengan memanfaatkan bahan organik seperti pupuk kandang dan rumput laut sebagai bagian dari upaya memperkaya mikroorganisme tanah.
Praktik berkelanjutan lainnya dipaparkan Adnan Abdillah melalui pengalaman penerapan Sustainable Rice Platform (SRP) di Sragen. Ia menekankan pentingnya memahami, menerapkan, mendorong, sekaligus menjaga praktik pertanian yang telah dijalankan. Salah satu prinsip yang disampaikan adalah penggunaan pupuk berdasarkan kebutuhan tanaman dan kondisi tanah, bukan sekadar menambah dosis. Pengalaman serupa juga dibagikan Sriyanto, Ketua Kelompok Tani Sri Makmur Sragen, yang telah menerapkan pertanian berkelanjutan sejak 2013. Kelompoknya menggunakan pupuk organik serta pestisida hayati untuk menjaga ekosistem, sekaligus berupaya menekan biaya produksi melalui pemanfaatan bahan organik yang tersedia di sekitar.
Dari Sumatera Barat, Isra memperkenalkan pendekatan Sawah Pokok Murah yang berorientasi pada efisiensi biaya, tenaga, dan usaha petani. Menurutnya, pertanian masa depan perlu mempertimbangkan kondisi lahan yang semakin tergerus serta penggunaan input yang terus meningkat. Praktik tersebut tidak hanya dikembangkan di daerah asalnya, tetapi juga mulai diterapkan di sejumlah wilayah lain, termasuk Jawa Timur dan Jawa Barat. Beragam pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa jalan menuju pertanian berkelanjutan tidak harus melalui satu pola tunggal, melainkan dapat berkembang sesuai kondisi lingkungan, kebutuhan petani, dan karakter wilayah masing-masing.
Pandangan dari kalangan ilmiah turut memperkaya diskusi. Dr. Inez Slamet-Loedin dari International Rice Research Institute (IRRI) menilai praktik lokal yang mengarah pada keberlanjutan perlu diakomodasi melalui regulasi, aturan yang jelas, serta insentif bagi petani yang telah melakukan perubahan. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan bukanlah sebuah teknologi tunggal, melainkan sistem bertani yang hasil dan dampaknya dapat diukur. Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Suryo Wiyono, juga menyoroti anggapan bahwa pertanian berkelanjutan selalu menurunkan produksi. Berdasarkan pengalaman yang dipaparkan, pertanian bio-intensif justru berpotensi meningkatkan hasil sekaligus mengurangi modal produksi. Sementara itu, Dr. Rina Hapsari dari Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian menyampaikan bahwa pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan tengah mengupayakan penyusunan standardisasi beras berkelanjutan.
Webinar yang dimoderatori W.R. Nanta tersebut ditutup dengan penekanan Prof. Damayanti Buchori mengenai pentingnya menjaga keberagaman dalam praktik pertanian. Keberagaman pendekatan dinilai menjadi bagian penting dalam menghadapi persoalan pertanian yang berbeda di setiap wilayah. Forum KRKP dan Tani dan Nelayan Center IPB University ini sekaligus menunjukkan bahwa transformasi menuju pertanian padi berkelanjutan membutuhkan kolaborasi antara petani, peneliti, perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan. Dengan mengakui pengalaman lokal dan memperkuat dukungan kebijakan, praktik pertanian berkelanjutan diharapkan dapat berkembang lebih luas tanpa mengabaikan kebutuhan serta kondisi nyata para petani.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....