Amazon Beli Buku Langka untuk Latih AI, Sebagian Dipotong

  • 18 Agt 2026 14:33 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Amazon tengah menjadi sorotan setelah laporan mengungkap bahwa perusahaan tersebut membeli banyak buku langka untuk digunakan sebagai bahan pelatihan kecerdasan buatan atau AI. Buku-buku tersebut disebut diproses dengan cara dipotong bagian punggungnya agar halaman dapat dipindai dan diubah menjadi data digital.

Dilansir dari techcrunch.com, laporan 404 Media mengungkap bahwa jejak sejumlah buku langka tersebut mengarah ke salah satu fasilitas Amazon di Las Vegas. Media tersebut bahkan memasang alat pelacak pada sebuah buku langka dan mendapati bahwa buku itu akhirnya tiba di fasilitas Amazon yang dikenal dengan kode VGT3.

Menariknya, fasilitas VGT3 memiliki simbol berupa dinosaurus yang sedang memegang sebuah buku. Hal tersebut menjadi perhatian karena Amazon sendiri pada awalnya dikenal sebagai perusahaan yang menjual buku secara daring sebelum berkembang menjadi perusahaan teknologi dengan berbagai layanan, termasuk di bidang kecerdasan buatan.

Dalam pernyataannya kepada 404 Media, Amazon mengatakan bahwa perusahaan membeli buku melalui jalur komersial untuk membantu meningkatkan produk dan layanan yang digunakan pelanggan. Amazon tidak secara spesifik menjelaskan proses pemanfaatan buku-buku tersebut, termasuk bagaimana materi dari buku langka itu diproses untuk kebutuhan pelatihan AI.

Kebutuhan terhadap buku langka berkaitan erat dengan semakin besarnya kebutuhan perusahaan teknologi terhadap data untuk melatih model AI. Model bahasa besar atau large language model (LLM) membutuhkan data dalam jumlah sangat besar agar mampu memahami bahasa, menghasilkan tulisan, menjawab pertanyaan, hingga menjalankan berbagai tugas lainnya.

Selama ini, internet menjadi salah satu sumber utama data untuk melatih AI. Namun, semakin banyak perusahaan mengembangkan model AI, semakin besar pula kebutuhan terhadap sumber data baru, termasuk buku-buku yang sudah tidak diterbitkan atau sulit ditemukan dalam bentuk digital.

Buku-buku lama juga memiliki nilai tersendiri karena sebagian besar ditulis jauh sebelum teknologi AI generatif berkembang. Dengan menggunakan tulisan manusia sebagai bahan pelatihan, perusahaan dapat mengurangi risiko model terlalu banyak belajar dari konten yang sebelumnya juga dibuat oleh AI.

Masalah tersebut berkaitan dengan istilah “model collapse”, yaitu kondisi ketika kualitas keluaran AI dapat menurun akibat model terlalu banyak dilatih menggunakan konten yang dihasilkan AI. Jika sebuah model terus belajar dari materi yang dibuat oleh model lain, variasi dan kualitas informasi yang dihasilkan berpotensi semakin terbatas.

Di sisi lain, proses memotong buku untuk mendapatkan salinan digital menimbulkan pertanyaan mengenai nasib buku-buku langka yang memiliki nilai sejarah. Meskipun informasi di dalamnya dapat diselamatkan melalui digitalisasi, bentuk fisik buku yang mungkin sudah sulit ditemukan bisa saja tidak lagi dapat dipertahankan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan AI ternyata tidak hanya membutuhkan komputer, pusat data, dan perangkat lunak. Di balik teknologi yang semakin canggih tersebut terdapat kebutuhan terhadap sumber pengetahuan dalam jumlah besar, termasuk buku-buku yang selama ini menjadi bagian penting dari sejarah dan perkembangan ilmu pengetahuan manusia.

Peristiwa ini sekaligus membuka diskusi baru mengenai bagaimana teknologi seharusnya memanfaatkan koleksi literatur untuk mengembangkan AI. Ketika kebutuhan data semakin besar, keseimbangan antara inovasi teknologi, hak cipta, akses terhadap pengetahuan, dan pelestarian buku menjadi persoalan yang semakin penting untuk diperhatikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....