IPB University Hadirkan Laboratorium Berjalan Bantu Petani Atasi Hama Tanaman

  • 02 Agt 2026 14:10 WIB
  •  Bogor
Poin Utama
  • Safari Mobil Klinik Tanaman hadir sebagai jawaban atas meningkatnya gangguan penggerek batang, wereng batang cokelat, dan tikus
  • Berbeda dengan layanan sebelumnya yang mengharuskan petani membawa sampel tanaman ke kampus, Mobil Klinik Tanaman menghadirkan laboratorium berjalan langsung ke sawah, kebun, dan desa
  • IPB University berharap program ini tidak hanya membantu menyelesaikan persoalan hama saat ini, tetapi juga menjadi dasar pengembangan riset, sistem peringatan dini, serta layanan perlindungan tanaman

RRI.CO.ID, Bogor- IPB University meluncurkan Safari Perdana Mobil Klinik Tanaman sebagai upaya membawa layanan laboratorium langsung ke lahan pertanian. Program yang berlangsung pada 30 Juli hingga 4 Agustus 2026 ini menjangkau tujuh sentra produksi padi di Boyolali, Sukoharjo, Klaten, Demak, Grobogan, Indramayu, dan Subang.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari respons cepat IPB University terhadap meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman, sekaligus mendukung pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) dan program Dosen Mengabdi Pulang Kampung (Dospulkam).

Mobil Klinik Tanaman menghadirkan laboratorium berjalan langsung ke sawah, kebun, dan desa.
Foto: Dok. IPB University

Safari Mobil Klinik Tanaman hadir sebagai jawaban atas meningkatnya gangguan penggerek batang, wereng batang cokelat, dan tikus yang menyerang pertanaman padi pada akhir musim tanam kedua tahun 2026. Tim Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB University melakukan asesmen langsung di lapangan, membuka layanan konsultasi bagi petani dan penyuluh, serta memberikan rekomendasi pengendalian yang disesuaikan dengan kondisi nyata di setiap lokasi. Kegiatan ini turut dihadiri Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Rektor IPB University, dosen, dan para petani.

Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Dr. Rachmat, menegaskan bahwa penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) menjadi salah satu kunci dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Menurutnya, pemerintah terus mendorong kemandirian petani melalui berbagai program, termasuk pembentukan Pos Pelayanan Agens Hayati agar petani mampu mengelola tanaman secara mandiri dan berkelanjutan.

Berbeda dengan layanan sebelumnya yang mengharuskan petani membawa sampel tanaman ke kampus, Mobil Klinik Tanaman menghadirkan laboratorium berjalan langsung ke sawah, kebun, dan desa. Melalui pendekatan ini, petani dapat memperlihatkan kondisi tanaman secara langsung kepada para pakar, berdiskusi mengenai penyebab kerusakan, hingga menentukan langkah penanganan yang paling tepat sesuai situasi di lapangan. Pendekatan tersebut diharapkan mempercepat proses diagnosis sekaligus meningkatkan efektivitas pengendalian hama dan penyakit tanaman.

Rektor IPB University, Dr. Alim Setiawan Slamet, S.TP., M.Si., mengatakan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk hadir di tengah masyarakat dan memberikan solusi atas persoalan nyata yang dihadapi petani. Ia menjelaskan, saat ini sekitar 4.500 mahasiswa IPB sedang menjalankan program KKN di berbagai daerah di Indonesia.

Bersama para dosen melalui program Dospulkam dan Mobil Klinik Tanaman, IPB berupaya mendampingi masyarakat menghadapi tantangan seperti ledakan hama hingga dampak perubahan iklim. Menurutnya, kolaborasi dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi lain, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun inovasi yang bermanfaat bagi sektor pertanian.

Di Desa Sumber, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, tim yang dipimpin Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Dr. Ir. Hermanu Triwidodo, M.Sc., bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LP2NU) Klaten menyusun strategi pengendalian hama yang lebih bersifat pencegahan. Pendekatan ini menitikberatkan pada pengamatan agroekosistem, identifikasi risiko sejak dini, serta pengambilan keputusan sebelum serangan berkembang menjadi lebih luas. Menurut Prof. Hermanu, petani tidak hanya perlu mengetahui jenis hama dan cara pengobatannya, tetapi juga memahami penyebab kemunculan hama serta waktu yang tepat untuk melakukan pengendalian tanpa merusak keseimbangan lingkungan.

Ketua LP2NU Klaten sekaligus petani, Wardiyono, mengapresiasi kehadiran Mobil Klinik Tanaman karena mampu mendekatkan dunia akademik dengan petani. Ia menilai layanan tersebut memudahkan petani dalam berkonsultasi langsung mengenai kondisi tanaman sehingga solusi yang diberikan lebih sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Setelah kegiatan di Klaten, Safari Mobil Klinik Tanaman dijadwalkan berlanjut ke Kabupaten Demak. IPB University berharap program ini tidak hanya membantu menyelesaikan persoalan hama saat ini, tetapi juga menjadi dasar pengembangan riset, sistem peringatan dini, serta layanan perlindungan tanaman yang semakin cepat, aman, dan berkelanjutan bagi petani di berbagai daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....