Mengenal Weaponized Incompetence dalam Kehidupan Sehari-hari

  • 27 Jul 2026 10:07 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Istilah weaponized incompetence belakangan semakin sering muncul dalam perbincangan di media sosial, terutama ketika membahas pembagian tanggung jawab dalam hubungan maupun di lingkungan kerja. Meski kerap digunakan dalam diskusi sehari-hari, istilah tersebut bukan merupakan diagnosis psikologis, melainkan pola perilaku yang dapat memengaruhi hubungan antarindividu.

Psychology Today menjelaskan bahwa weaponized incompetence merujuk pada perilaku seseorang yang secara sengaja atau berulang kali menunjukkan ketidakmampuan dalam menyelesaikan suatu tugas sehingga tanggung jawab tersebut akhirnya dialihkan kepada orang lain. Pola ini tidak merujuk pada kesalahan yang terjadi sesekali, melainkan perilaku yang terus berulang tanpa adanya upaya untuk memperbaiki keadaan meskipun dampaknya telah diketahui.

Perilaku tersebut dapat muncul dalam berbagai situasi. Di lingkungan rumah tangga, misalnya, seseorang mengaku tidak bisa mencuci pakaian, memasak, atau membersihkan rumah sehingga pasangan memilih mengerjakan tugas tersebut. Di tempat kerja, kondisi serupa dapat terjadi ketika seseorang terus-menerus mengaku tidak mampu menyelesaikan pekerjaan tertentu hingga rekan kerja akhirnya mengambil alih tanggung jawab tersebut.

Meski demikian, tidak semua bentuk ketidakmampuan dapat dikategorikan sebagai weaponized incompetence. Seseorang yang benar-benar belum memiliki keterampilan, masih dalam proses belajar, atau melakukan kesalahan tanpa disengaja tidak serta-merta menunjukkan perilaku tersebut. Perbedaannya terletak pada kesediaan untuk belajar, menerima masukan, serta berupaya meningkatkan kemampuan agar kesalahan yang sama tidak terus berulang.

Pola perilaku tersebut dapat menyebabkan pembagian tanggung jawab menjadi tidak seimbang. Seiring waktu, kondisi ini dapat membuat salah satu pihak memikul porsi pekerjaan yang lebih besar. Akibatnya, dapat muncul rasa lelah, ketidakpuasan, hingga menurunnya kualitas hubungan maupun kerja sama karena beban yang ditanggung tidak lagi terbagi secara proporsional.

Para ahli juga menekankan pentingnya membedakan antara ketidakmampuan yang nyata dengan perilaku menghindari tanggung jawab. Oleh karena itu, komunikasi yang terbuka, pembagian tugas yang jelas, serta kemauan untuk belajar menjadi langkah penting agar setiap pihak dapat menjalankan perannya secara adil tanpa membebani orang lain.

Memahami makna weaponized incompetence dapat membantu masyarakat mengenali dinamika dalam hubungan maupun lingkungan kerja secara lebih objektif. Alih-alih digunakan sebagai label untuk menghakimi seseorang, istilah ini dapat menjadi pengingat akan pentingnya tanggung jawab, kerja sama, dan komunikasi yang sehat dalam menjalankan berbagai peran di kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....