IPB University Perluas Jejaring Global untuk Komoditas Unggul
- 29 Jun 2026 05:22 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - IPB University terus memperluas jejaring internasional dalam pemberdayaan masyarakat berbasis komoditas lokal melalui penyelenggaraan One Village One CEO (OVOC) International di Agribusiness and Technology Park (ATP), Bogor pada Jumat 26 Juni 2026.
Kegiatan yang diikuti peserta dari Korea Selatan, Tiongkok, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Indonesia ini menjadi momentum penguatan kolaborasi global sekaligus promosi produk unggulan desa binaan IPB University menuju pasar internasional.
Wakil Kepala Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) Bidang Inovasi, Alih Teknologi, dan Pemberdayaan Masyarakat, Dr Roza Yusfiandayani, menjelaskan bahwa OVOC merupakan model pengembangan ekosistem bisnis berbasis potensi lokal yang telah diinisiasi sejak 2018. Pada tahun kedelapan penyelenggaraannya, program ini berkembang menjadi ajang internasional yang mempertemukan akademisi, mahasiswa, dan komunitas dari berbagai negara.
“Melalui OVOC International, kami ingin membangun ekosistem bisnis dari hulu hingga hilir berdasarkan komoditas unggulan setiap daerah. Pada satu windu perjalanan OVOC, kami memperluas jejaring ke berbagai negara agar produk-produk desa binaan IPB University memiliki akses pasar global,” ujar Dr Roza.
Ia menambahkan, IPB University saat ini telah mengidentifikasi sejumlah komoditas unggulan seperti kopi, pinang, talas, ubi jalar, dan edamame untuk dipromosikan ke delapan negara, yakni Malaysia, Filipina, Jepang, Korea Selatan, Belgia, Belanda, Polandia, dan negara mitra lainnya.
Selain membawa produk lokal ke pasar internasional, kegiatan ini juga menghadirkan mahasiswa mancanegara untuk belajar langsung di desa-desa binaan IPB University. Selama enam hari, para peserta akan mengikuti program pembelajaran berbasis masyarakat di Bogor, Cianjur, Garut, Ciamis, dan Lampung Barat.
“Mereka akan mempelajari praktik budi daya, pengolahan hasil pertanian, hingga pengembangan model bisnis berbasis komunitas sebelum membawa pengalaman tersebut ke negara masing-masing,” ucapnya.
Dalam sesi berbagi praktik lapangan, lanjut Dr Roza, petani mitra OVOC memperlihatkan keberhasilan hilirisasi berbagai komoditas.
“Kelompok tani ubi di Desa Bojong Jengkol, misalnya, telah mengembangkan ubi jalar premium menjadi aneka produk olahan bernilai tambah serta menerapkan sistem sortasi untuk memenuhi kebutuhan ekspor dan pasar modern,” ujarnya.
Sementara itu, kelompok tani talas binaan IPB University berhasil memperluas akses pasar melalui kemitraan industri sekaligus mengembangkan laboratorium mini sebagai sarana edukasi bagi pengunjung. Di sektor hortikultura, pengembangan edamame juga menunjukkan prospek yang menjanjikan.
Melalui pendampingan teknologi budi daya, inovasi sosial OVOC, serta kemitraan pemasaran, komoditas tersebut mampu memenuhi permintaan pasar modern sekaligus meningkatkan kapasitas petani binaan. Dr Roza berharap OVOC International menjadi langkah strategis dalam mendukung tema IPB University tahun 2026, yakni Global Engagement.
Menurutnya, lebih dari 1.072 desa binaan yang telah tergabung dalam ekosistem OVOC memiliki potensi besar untuk memperkuat daya saing komoditas lokal Indonesia di pasar dunia, sekaligus memperluas dampak pemberdayaan masyarakat melalui kolaborasi internasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....