IPB University dan WorldVeg Bentuk Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan
- 29 Jun 2026 21:02 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB University bersama World Vegetable Center (WorldVeg) meluncurkan Taiwan-ASEAN Pest and Disease Surveillance Network. Jaringan kolaborasi lintas negara ini bertujuan mempercepat deteksi dini serta pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) invasif pada komoditas sayuran di Asia Tenggara.
Inisiatif ini menjadi langkah strategis menghadapi ancaman penyebaran hama dan penyakit tanaman yang kian meningkat akibat perubahan iklim, perdagangan internasional, dan tingginya mobilitas bahan tanam. Taiwan-ASEAN Pest and Disease Surveillance Network diluncurkan dalam lokakarya regional di IPB International Convention Center (IICC) Bogor beberapa waktu lalu dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Luar Negeri Taiwan (MOFA).
Lebih dari 40 peserta yang terdiri atas peneliti, otoritas karantina tumbuhan, dan pakar teknis dari Taiwan serta enam negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Kamboja, Laos, Filipina, Thailand, dan Vietnam, hadir dalam forum tersebut.
Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Prof Suryo Wiyono, menekankan kolaborasi regional menjadi pilar utama dalam menjaga keberlanjutan produksi sayuran sekaligus memperkuat ketahanan pangan Asia Tenggara.
“Sebagai seorang ahli patologi tumbuhan, saya memahami bahwa surveilans merupakan kunci untuk mendeteksi ancaman penyakit sejak awal. Kolaborasi lintas negara seperti ini sangat penting untuk melindungi produksi sayuran dan ketahanan pangan kawasan,” ungkap Pro Suryo Wiyono, Senin 29 Juni 2026.
Senada dengan hal tersebut, Project Coordinator sekaligus Scientist–Plant Pathology WorldVeg, Dr Lourena Maxwell, menegaskan bahwa ancaman hama dan penyakit tanaman tidak mengenal batas negara.
“Hama dan penyakit tanaman tidak mengenal batas negara. Berbagi informasi serta memperkuat kapasitas diagnosis di antara negara-negara ASEAN akan membantu kita merespons ancaman yang muncul dengan lebih cepat dan efektif,” ujarnya.
Menurutnya, pembentukan Taiwan-ASEAN Pest and Disease Surveillance Network merupakan langkah penting untuk memperkuat kesiapsiagaan bersama dalam melindungi produksi sayuran di kawasan.
Sementara itu, Atase Pertanian Taipei Economic and Trade Office di Jakarta, Mr Tony SY Hou, menyampaikan komitmen Taiwan untuk berbagi pengalaman dan keahlian dalam sistem surveilans hama dan penyakit tanaman bersama negara-negara ASEAN.
Ia menilai kerja sama lintas negara akan mempercepat respons terhadap ancaman baru sekaligus memperkuat kapasitas perlindungan tanaman di kawasan. Dalam lokakarya tersebut, para delegasi memetakan berbagai ancaman utama terhadap produksi sayuran di kawasan.
Selain penyakit yang telah lama menjadi perhatian, seperti antraknosa dan layu bakteri, peserta juga menyoroti kemunculan organisme invasif baru yang memiliki dampak ekonomi tinggi, di antaranya tomato brown rugose fruit virus (ToBRFV), tuta absoluta, dan thrips hitam cabai (Thrips parvispinus). Hasil pemetaan ini menjadi dasar penyusunan strategi pengawasan dan pengendalian yang lebih terintegrasi di tingkat regional
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....