Pakar Ingatkan Kerbau Indonesia Bisa Hilang pada 2031

  • 22 Jun 2026 12:17 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Ancaman hilangnya kerbau dari Indonesia dalam beberapa tahun mendatang menjadi perhatian serius para akademisi dan peneliti. Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB University, Imam Supriatna, pernah memperingatkan bahwa jika tren penurunan populasi kerbau terus berlangsung tanpa langkah penyelamatan yang nyata, populasi hewan tersebut dapat mendekati nol pada 2031.

Peringatan tersebut didukung oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan jumlah kerbau nasional terus menurun dalam kurun waktu dua dekade terakhir. Berdasarkan data Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2023 yang dirilis Kementerian Pertanian disebutkan populasi kerbau turun dari 1.143.189 ekor pada 2021 menjadi 1.088.483 ekor pada 2022.

Penurunan populasi terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Pulau Jawa yang seluruh provinsinya mencatat tren negatif. Dari 38 provinsi di Indonesia, hanya sebagian kecil yang masih menunjukkan peningkatan populasi kerbau, sementara daerah lainnya terus mengalami penyusutan jumlah ternak tersebut.

Keberadaan hewan kerbau kini menghadapi ancaman penyusutan populasi. (Foto: Ilustrasi AI)

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Peni Wahyu Prihandini bersama timnya dalam jurnal Veterinary World edisi 2023 menjelaskan bahwa rendahnya tingkat reproduksi dan sistem pemeliharaan yang belum optimal menjadi faktor utama penyebab penurunan populasi. Selain itu, keterbatasan pakan saat musim kemarau, alih fungsi lahan, penggunaan alat pertanian modern, hingga berkurangnya keragaman genetik turut memperburuk kondisi.

Padahal, kerbau dikenal sebagai salah satu ternak yang memiliki daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan ekstrem. Kerbau Sumbawa mampu bertahan di kawasan sabana yang mengalami musim kering panjang, sementara Kerbau Pampangan hidup di kawasan rawa Sumatera Selatan yang memiliki karakteristik lahan basah.

Indonesia juga memiliki keragaman genetik kerbau yang sangat kaya dengan berbagai ras lokal seperti Kerbau Gayo, Jawa, Kalang, Kuntu, Simeulue, Toraya, hingga Anoa yang merupakan kerabat liar kerbau di Sulawesi. Keberadaan satwa-satwa tersebut menjadi bagian penting dari kekayaan hayati nasional sekaligus warisan genetik yang bernilai tinggi.

Mengutip data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) tahun 2024, permintaan produk kerbau seperti susu dan daging terus meningkat di sejumlah negara Asia karena kandungan protein yang tinggi dan kemampuan adaptasinya terhadap perubahan iklim. Namun tanpa upaya konservasi dan pengembangan yang serius, Indonesia berisiko kehilangan salah satu sumber daya ternak lokal yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pedesaan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....