IPB Buat Inovasi, Hijaukan Lahan Bekas Tambang Kapur dengan Bioaktivator
- 27 Feb 2026 21:13 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Inovasi dosen IPB University terpilih sebagai salah satu inovasi paling prospektif dalam ajang 117 Inovasi Indonesia 2025 yang diselenggarakan Business Innovation Center (BIC). Inovasi tersebut dikembangkan oleh Dr. Nisa Rachmania bersama tim.
Berjudul Kolaborasi Jasad Renik Hijaukan Lahan Tambang Kapur, riset ini berfokus pada pemanfaatan mikroorganisme lokal untuk mendukung proses pengomposan dan revegetasi lahan bekas tambang batuan kapur. Produk formulasi ini terdiri atas isolat bakteri Bacillus paramycoides A.1.4 dan kapang Penicillium singorense 1.1.a yang berasal dari tanah area revegetasi bekas tambang batuan kapur PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Citeureup.
“Area revegetasi di lingkungan quarry bekas tambang batuan kapur Citeureup menyimpan potensi karbon organik dari limbah tumbuhan mati yang mengandung selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Dari tanah dan sisa tumbuhan tersebut, kami mengisolasi bakteri dan cendawan penghasil enzim pengurai,” terangnya, Jumat, 27 Februari 2026.
Kedua mikroorganisme potensial penghasil enzim pengurai selulosa dan lignin tersebut kemudian dikumpulkan menjadi konsorsium sebagai formula bioaktivator pembuatan kompos dari sisa tanaman di area revegetasi tersebut. Menurut Dr. Nisa, pengujian menunjukkan hasil pengomposan dan pemberian pupuk hayati dari formulasi kedua mikroorganisme tersebut lebih baik dibandingkan produk komersial.
“Hal ini menunjukkan kedua isolat telah adaptif pada lingkungan bekas tambang batuan kapur. Kedua spesies ini belum pernah dilaporkan sebagai komponen pupuk hayati seperti yang telah diperjualbelikan secara komersial,” jelasnya.
Ia menambahkan, kedua isolat tidak bersifat patogen bagi manusia dan hewan. Berdasarkan kajian literatur, Penicillium singorense juga bukan patogen tanaman. Dalam uji tambahan, formula bioaktivator terbukti mampu menurunkan 86 persen bobot limbah tanaman, jauh lebih tinggi dibandingkan produk komersial lain yang hanya 15 persen.
Pada uji lapangan terbatas seluas sekitar 50 meter persegi, pertambahan tinggi tanaman kaliandra mencapai 9,8 persen pada perlakuan formula, dibandingkan 9,1 persen pada produk komersial.
“Dari hasil penelitian ini, kedua isolat berpotensi digunakan sebagai pupuk hayati dan starter untuk proses pengomposan di area tambang batuan kapur atau lahan dengan komposisi tanah serupa,” ujarnya.
Dr. Nisa menekankan, inovasi ini masih perlu diuji pada skala penanaman yang lebih luas. Ia juga mendorong agar isolat mikroorganisme potensial disimpan di culture collection, seperti IPB Culture Collection, agar keberadaannya terjaga dan dapat digunakan sebagai isolat standar pupuk hayati asli Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....