Lonjakan Harga RAM 2025 Mengguncang Pasar PC
- 20 Feb 2026 23:45 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Lonjakan harga RAM sejak pertengahan 2025, mengguncang pasar komputer global, termasuk Indonesia. Komponen yang selama ini relatif terjangkau tiba-tiba meroket hingga 500 persen di sejumlah segmen. Meningkatkan kinerja komputer yang dulu bisa dilakukan dengan anggaran ringan, kini menuntut perhitungan matang, bahkan memaksa sebagian konsumen menunda rencana merakit komputer baru.
Akar persoalannya berada di pusat ledakan industri kecerdasan buatan. Permintaan memori dari sektor AI dan data center melonjak tajam, menyerap produksi dalam skala masif. Perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Amazon, dan Microsoft memborong High Bandwidth Memory (HBM) dan DRAM server-grade untuk menopang infrastruktur AI mereka. Lembaga riset pasar TrendForce mencatat harga kontrak DRAM kuartal III 2025 melonjak 171,8 persen secara tahunan—bahkan melampaui kenaikan harga emas pada periode yang sama.
Dampaknya terasa nyata di level ritel. Data dari PCPartPicker menunjukkan harga RAM mulai naik sejak Juni 2025 dan terus menanjak hingga akhir tahun. Modul DDR5-6000 32GB yang sebelumnya dibanderol sekitar 100 dolar AS kini melampaui 200 dolar AS—naik 100 persen hanya dalam enam bulan. DDR4-3600 32GB pun melonjak dari 80 dolar AS menjadi sekitar 150 dolar AS.
Di Indonesia, gejolaknya bahkan lebih ekstrem. Distributor komponen PC besar menyebut kenaikan mencapai 300–400 persen di beberapa tipe. Anton dari Zoom Komputer mengatakan banyak konsumen akhirnya menunda pembelian atau menurunkan kapasitas RAM dari rencana awal demi menyesuaikan anggaran karna lonjakan harga sepenuhnya dipengaruhi kondisi global karena Indonesia tidak memiliki kapasitas produksi RAM dan masih bergantung pada impor.
Efek domino mulai terasa di industri perangkat jadi. Produsen laptop seperti Lenovo, Dell, dan HP dilaporkan mempertimbangkan penyesuaian harga mulai awal 2026. RAM menyumbang sekitar 15–20 persen dari total biaya produksi PC. CEO HP, Enrique Lores, menyebut tren AI PC—yang membutuhkan minimal 16GB RAM untuk fitur on-device seperti Copilot+—semakin mempertebal tekanan biaya.
Analis memprediksi harga RAM belum akan turun dalam waktu dekat. TrendForce memperkirakan permintaan dari data center AI tetap tinggi hingga 2026 tanpa tanda perlambatan berarti. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade, RAM berpotensi menjadi komponen termahal dalam rakitan PC, bahkan menyalip GPU kelas atas.
Bagi konsumen, strategi menjadi kunci. Jika kebutuhan mendesak seperti untuk pekerjaan atau penggantian komponen rusak, membeli sekarang dinilai lebih realistis daripada menunggu penurunan harga yang belum pasti. Namun untuk sekadar upgrade performa ringan, menunda pembelian 3–6 bulan ke depan bisa menjadi pilihan rasional. Alternatif lain adalah mempertimbangkan RAM bekas berkualitas dari penjual terpercaya, sembari berharap badai harga di pasar memori global segera mereda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....