Banyak Orang Curhat ke AI, Mengapa?

  • 20 Feb 2026 22:30 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini tidak hanya dimanfaatkan untuk mendukung pekerjaan teknis, tetapi juga menjadi sarana berbagi cerita dan emosi. Fenomena ini memunculkan pertanyaan menarik: AI memang mampu “mendengar”, tetapi apakah benar-benar “peduli”? Dari sini, muncul pelajaran penting tentang bagaimana manusia dapat meningkatkan kualitas dalam mendengarkan.

Riset yang dipublikasikan oleh Harvard Business Review pada 2025 menunjukkan bahwa terapi dan pendampingan menjadi penggunaan paling umum dari AI generatif seperti ChatGPT. Banyak orang memanfaatkan AI untuk mencurahkan isi hati karena responsnya dinilai tenang dan tidak menghakimi. Bahkan, sejumlah studi menemukan bahwa jawaban AI kerap dianggap lebih empatik dibandingkan respons manusia.

Perlu dipahami, AI tidak memiliki empati yang sesungguhnya. Sistem ini bekerja dengan mengenali pola bahasa dan emosi dari kumpulan data dalam jumlah besar, lalu merefleksikannya kembali dalam bentuk respons yang relevan. Dengan demikian, kesan empati yang muncul merupakan hasil simulasi berbasis algoritma bukan perasaan yang nyata.

Psikolog Carl Rogers menegaskan bahwa mendengarkan secara efektif memerlukan pengakuan dan validasi terhadap emosi lawan bicara. Namun, dalam praktiknya manusia kerap menyela percakapan karena ingin segera membantu, merasa tidak nyaman dengan keheningan, atau tanpa sadar ingin menyampaikan pendapat pribadi. Interupsi tersebut dapat mengurangi rasa dipahami yang dirasakan oleh pembicara.

Sebaliknya, AI memberikan perhatian tanpa gangguan dan tanpa kelelahan emosional. Sistem ini tidak memiliki kepentingan pribadi maupun kecenderungan untuk menghakimi, sehingga pengguna merasa lebih aman untuk berbagi. Ruang tanpa penilaian ini membantu seseorang memahami emosinya secara lebih jernih serta membangun ketahanan psikologis.

AI juga memiliki kemampuan mengenali pola dalam cerita yang kompleks. Dengan merangkum benang merah dari berbagai ungkapan emosi, AI dapat membantu pengguna melihat gambaran menyeluruh dari persoalan yang dihadapi. Pendekatan ini kerap membuka sudut pandang baru dalam memahami diri sendiri.

Meski demikian, hubungan antarmanusia tetap tidak tergantikan. Kehadiran seseorang yang secara sadar meluangkan waktu untuk mendengarkan menghadirkan makna, kepedulian, dan kebersamaan yang tidak dapat direplikasi oleh sistem berbasis kode. AI dapat menjadi sarana pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan mendengarkan, tetapi pengalaman merasa benar-benar dipahami oleh sesama manusia memiliki nilai yang jauh lebih mendalam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....