Ciplukan Viral, Nostalgia dan Nilai Ekonomi Baru

  • 10 Jan 2026 14:31 WIB
  •  Bogor

KBRN, Bogor: Linimasa platform X (sebelumnya Twitter) mendadak ramai setelah unggahan akun @onmyway1133 pada 9 Januari 2026 menampilkan foto buah berwarna hijau bercorak vena khas dan menantang warganet menebak jenis buah tersebut. Reaksi cepat pun bermunculan, mayoritas menyebut buah itu sebagai ciplukan, tanaman liar yang dulu sering dipetik anak-anak di pedesaan. Fenomena ini kembali mengangkat popularitas ciplukan yang kini justru memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar modern.

Percakapan warganet berkembang menjadi nostalgia kolektif. Banyak pengguna mengenang masa kecil saat mencari ciplukan di pekarangan atau tepi sawah,buah yang dahulu tak bernilai kini dijual dengan harga premium di gerai ritel modern. Beberapa netizen juga menyoroti perubahan persepsi masyarakat terhadap tanaman ini yang dulunya dianggap gulma, namun kini dihargai sebagai buah kaya nutrisi dan sering digolongkan sebagai superfood di berbagai publikasi pangan internasional.

Ciplukan (Physalis angulata) memiliki bentuk buah unik yang terbungkus kelopak menyerupai lentera. Ketika matang, buah berubah warna menjadi kuning keemasan dengan rasa manis-asam. Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mencatat bahwa ciplukan mengandung vitamin C, vitamin A, serat, serta berbagai antioksidan yang berperan dalam meningkatkan imunitas dan menurunkan risiko peradangan.

Meski bermanfaat, konsumsi ciplukan tetap harus diperhatikan. Balai Besar Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) mengingatkan bahwa ciplukan sebaiknya dikonsumsi ketika matang sempurna dan tidak berlebihan untuk menghindari gangguan pencernaan. Tanaman ini juga memiliki bagian lain yang dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional, mulai dari daun hingga akarnya. Viral-nya ciplukan di media sosial menunjukkan bahwa topik sederhana dapat membuka kembali memori budaya sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kekayaan tanaman lokal

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....