Kemampuan Multibahasa Terbukti Perlambat Penuaan Otak Manusia
- 18 Des 2025 10:35 WIB
- Bogor
KBRN, Bogor: Penuaan tidak serta-merta mengubah fungsi otak dalam semalam. Proses ini berlangsung perlahan, ditandai dengan penurunan daya ingat, konsentrasi yang terbagi, serta kesalahan kecil dalam berpikir. Di tengah kekhawatiran akan penurunan fungsi kognitif, sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa kemampuan berbahasa lebih dari satu dapat menjadi salah satu cara efektif untuk memperlambat penuaan otak.
Dilansir dari website www.nationalgeographic.com bahwa Hasil riset yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Aging menunjukkan bahwa individu yang terbiasa menggunakan lebih dari satu bahasa cenderung mengalami penurunan fungsi kognitif yang lebih lambat dibandingkan mereka yang hanya menggunakan satu bahasa. Penuaan otak yang dimaksud meliputi berkurangnya kecepatan berpikir, perhatian, dan kemampuan mental lainnya.
Penelitian ini menganalisis data lebih dari 86 ribu responden berusia 51 hingga 91 tahun dari 27 negara Eropa. Hasilnya, kelompok multibahasa tercatat memiliki risiko penuaan biologis otak hingga setengah lebih rendah dibandingkan kelompok monolingual. Temuan ini tetap konsisten meskipun peneliti telah memperhitungkan faktor lain seperti tingkat pendidikan dan kondisi sosial ekonomi.
Para peneliti menilai penggunaan beberapa bahasa secara aktif dalam kehidupan sehari-hari berperan penting dalam menjaga kesehatan jaringan otak. Aktivitas berbahasa yang beragam disebut mampu melatih otak secara terus-menerus, layaknya olahraga bagi tubuh, sehingga meningkatkan daya adaptasi otak seiring bertambahnya usia.
Selain berdampak pada individu, kemampuan multibahasa juga dinilai memiliki manfaat pada tingkat populasi. Penurunan fungsi kognitif yang melambat berpotensi menunda munculnya penyakit neurodegenratif, seperti demensia dan Alzheimer. Hal ini menjadikan pembelajaran bahasa sebagai strategi sederhana namun menjanjikan dalam mendukung penuaan yang sehat.
Meski demikian, para ahli mengakui masih terdapat sejumlah pertanyaan yang perlu diteliti lebih lanjut, seperti tingkat kefasihan bahasa, frekuensi penggunaan, serta konteks sosial saat berbahasa. Kendati begitu, ukuran sampel yang besar dalam penelitian ini dinilai memperkuat bukti bahwa multibahasa berkontribusi terhadap cadangan kognitif, yakni kemampuan otak untuk bertahan dan beradaptasi terhadap perubahan usia.
Manfaat berbahasa lebih dari satu tidak hanya terbatas pada aspek kognitif. Individu multibahasa juga kerap menunjukkan kemampuan komunikasi yang lebih baik, fleksibilitas berpikir, serta ketangguhan dalam menghadapi tekanan mental. Bahkan, keterampilan ini dapat membantu menjaga hubungan sosial, yang kerap menyempit seiring bertambahnya usia.
Para pakar menegaskan bahwa tidak ada kata terlambat untuk mempelajari bahasa baru. Manfaatnya bersifat kumulatif dan dapat dirasakan meskipun proses belajar dimulai di usia lanjut. Dengan mendorong rasa ingin tahu, interaksi sosial, dan keterlibatan budaya, pembelajaran bahasa dinilai mampu memberi makna lebih dalam pada proses menua.
Di tengah tantangan penuaan global, temuan ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan otak tidak selalu memerlukan metode rumit. Terkadang, membuka diri pada bahasa dan budaya baru justru menjadi kunci untuk tetap aktif, terhubung, dan berpikir tajam sepanjang usia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....