Misteri Kura-Kura Leher Ular Asal Australia
- 23 Sep 2025 10:46 WIB
- Bogor
KBRN, Bogor: Pernahkah Anda melihat kura-kura dengan leher panjang bak ular? Itulah Chelodina Oblonga, atau sering dikenal sebagai kura-kura leher ular. Uniknya, spesies ini juga punya nama lain yaitu Northern Snake-Necked Turtle. Namun jangan bingung, karena hewan yang satu ini memang punya sejarah taksonomi yang cukup rumit.
Menurut Government of Western Australia, Department of Water and Environmental Regulation, selama bertahun-tahun Chelodina Oblonga sering tertukar dengan Chelodina Rugosa. Keduanya pernah dianggap sebagai satu spesies pada 1889, lalu dipisahkan lagi di 1967, kemudian sempat salah penamaan di tahun 2013. Baru pada penelitian genetik terakhir, muncul usulan untuk mengembalikan nama Chelodina Oblonga pada populasi kura-kura di wilayah barat daya Australia.
Habitat dan Makanan
Kura-kura berleher ular ini bisa ditemukan di wilayah barat daya Australia Barat, dari Hill River (sekitar 300 km utara Perth) hingga ke Taman Nasional Fitzgerald River. Mereka tinggal di berbagai habitat air tawar, mulai dari danau, rawa, sungai, bahkan kolam buatan di perkotaan maupun lahan pertanian, asalkan ada cukup makanan dan kualitas air yang baik.
Menu favoritnya? Mereka menyukai mollusca, invertebrata air, dan terutama udang air tawar. Sebagai predator bawah air, mereka menggunakan teknik gape-and-suck, yaitu menyedot mangsanya seperti vakum alami.
Ciri-Ciri Unik
Chelodina Oblonga punya leher panjang yang bisa dilipat ke samping cangkangnya. Warnanya biasanya cokelat gelap hingga hitam dengan bagian bawah putih kekuningan. Kulitnya berwarna abu-abu kehijauan dengan bintik gelap. Ukuran cangkangnya bisa mencapai hampir 40 cm, meski rata-rata di bawah 30 cm.
Betina biasanya lebih besar dari jantan, tapi jantan memiliki ekor lebih panjang. Saat musim hujan, betina akan meninggalkan air untuk bertelur di daratan, dengan jarak yang bisa mencapai ratusan meter dari tepian air.
Adaptasi dan Perilaku
Saat musim kering, kura-kura ini bisa masuk ke fase aestivasi, yaitu “tidur panjang” dengan bersembunyi di lumpur atau serasah daun untuk menghemat energi. Namun, dalam kondisi ini mereka rentan terhadap predator seperti rubah atau aktivitas manusia.
Ancaman dan Konservasi
Meski masih banyak dijumpai di alam liar, penelitian terbaru menunjukkan bahwa populasi Chelodina oblonga di sekitar wilayah perkotaan menurun. Bahkan, banyak lokasi di Perth yang sudah jarang ditemukan anakan kura-kura ini. Faktor utamanya adalah berkurangnya vegetasi alami untuk lokasi bertelur, selain juga ancaman dari lalu lintas, perburuan ilegal, dan perusakan habitat.
Karena itu, penting bagi masyarakat untuk membiarkan kura-kura ini bermigrasi secara alami tanpa gangguan. Mengingat usianya bisa mencapai 30–40 tahun di alam liar, menjaga habitatnya berarti ikut melestarikan bagian unik dari kekayaan fauna Australia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....