PBB Soroti Distorsi Peta: Greenland Terlihat Raksasa, Afrika Jauh Lebih Luas

  • 07 Sep 2026 09:12 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Pernah memperhatikan peta dunia dan merasa Greenland hampir sebesar Afrika? Gambaran tersebut ternyata tidak mencerminkan ukuran sebenarnya. Distorsi itu merupakan salah satu dampak dari cara permukaan Bumi yang berbentuk bulat digambarkan ke dalam bidang datar.

Persoalan mengenai ketepatan ukuran wilayah di peta kembali menjadi perhatian setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendorong penggunaan representasi dunia yang lebih proporsional. Langkah tersebut salah satunya menyoroti bagaimana proyeksi peta tertentu dapat membuat wilayah di dekat kutub terlihat jauh lebih besar dibandingkan ukuran sebenarnya.

Mengutip UN News, Majelis Umum PBB pada September 2026 mengadopsi resolusi yang mendorong penggunaan proyeksi peta yang dapat menggambarkan ukuran relatif negara dan benua secara lebih akurat. Resolusi tersebut mendapat dukungan 164 negara, sementara enam negara abstain dan satu negara menolak.

Salah satu contoh paling mudah untuk memahami persoalan ini adalah perbandingan Greenland dan Afrika. Pada peta dengan proyeksi Mercator, Greenland tampak sangat besar karena berada di wilayah lintang tinggi. Padahal, luas Greenland jauh lebih kecil dibandingkan Afrika.

Menurut U.S. Geological Survey (USGS), distorsi ukuran dan luas pada proyeksi Mercator semakin besar ketika suatu wilayah berada semakin dekat dengan kutub. USGS bahkan menggunakan perbandingan Greenland dan Amerika Selatan sebagai contoh klasik untuk menjelaskan bagaimana sebuah wilayah dapat terlihat jauh lebih besar daripada ukuran sebenarnya pada peta Mercator.

Hal ini terjadi karena tidak mungkin memindahkan seluruh permukaan Bumi yang berbentuk bola ke bidang datar tanpa menimbulkan perubahan. USGS menjelaskan, setiap proyeksi peta memiliki tingkat distorsi tertentu. Tidak ada satu peta datar yang sekaligus mampu mempertahankan bentuk, luas, jarak, dan arah secara sempurna.

Karena itu, keberadaan peta Mercator bukan berarti keliru. Proyeksi tersebut justru memiliki keunggulan penting untuk navigasi karena mampu mempertahankan arah. Persoalannya muncul ketika peta tersebut digunakan untuk membandingkan luas negara atau benua.

Alternatif seperti Equal Earth dirancang dengan pendekatan equal-area, yakni mempertahankan perbandingan luas wilayah agar lebih mendekati ukuran sebenarnya. Dengan proyeksi semacam ini, wilayah di lintang tinggi tidak lagi terlihat mengalami pembesaran ekstrem seperti pada Mercator.

Bagi masyarakat Indonesia, pembahasan ini juga menarik karena Indonesia berada di sekitar garis khatulistiwa. Ketika melihat peta dunia, ukuran dan bentuk Indonesia dapat tampak berbeda bergantung pada proyeksi yang digunakan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa peta bukan sekadar gambar permukaan Bumi. Cara sebuah negara atau benua ditampilkan sangat dipengaruhi metode pemetaan yang digunakan. Karena itu, memahami jenis proyeksi menjadi penting agar masyarakat tidak langsung menyimpulkan ukuran suatu wilayah hanya berdasarkan tampilan visual pada peta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....