Hampir 1.000 Anak Meninggal, Bangladesh Berjuang Hentikan Wabah Campak
- 05 Sep 2026 16:02 WIB
- Bogor
Poin Utama
- Hampir 1.000 anak meninggal akibat wabah campak yang melanda Bangladesh sejak Maret 2026.
- Lebih dari 180 ribu kasus suspek dan terkonfirmasi telah tercatat, dengan lebih dari 1.000 kasus suspek dilaporkan setiap hari.
- Vaksinasi massal terus digencarkan, tetapi kesenjangan imunisasi dan kondisi kekurangan gizi pada sebagian anak menjadi tantangan besar dalam mengendalikan wabah.
Bangladesh tengah menghadapi salah satu wabah campak terparah dalam beberapa dekade terakhir. Hingga awal September 2026, hampir 1.000 anak dilaporkan meninggal akibat campak maupun gejala yang menyerupai penyakit tersebut.
Berdasarakan laporan yang dikutip melalui AFP pada, 5 September 2026, data terbaru otoritas kesehatan Bangladesh menunjukkan sebanyak 987 anak meninggal sejak wabah mulai meningkat pada pertengahan Maret. Pada saat yang sama, jumlah kasus yang diduga maupun terkonfirmasi telah mencapai sekitar 181.829 kasus.
Lonjakan kasus membuat sejumlah rumah sakit anak di Dhaka berada dalam tekanan tinggi. Ruang perawatan pasien campak dipenuhi anak-anak yang membutuhkan penanganan, termasuk mereka yang mengalami gangguan pernapasan dan harus mendapatkan bantuan oksigen.
Campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular melalui percikan dari batuk dan bersin. Anak-anak usia dini menjadi kelompok yang paling rentan mengalami komplikasi berat, terutama ketika infeksi disertai kondisi kekurangan gizi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya mencatat bahwa anak-anak berusia di bawah lima tahun mendominasi kasus dalam wabah Bangladesh. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena anak yang belum mendapatkan imunisasi atau belum memperoleh perlindungan vaksin secara lengkap memiliki risiko lebih besar mengalami penyakit berat.
Masalah kekurangan gizi turut memperburuk situasi. Anak dengan kondisi gizi buruk memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah sehingga lebih sulit menghadapi infeksi dan berisiko mengalami komplikasi.
Pemerintah Bangladesh telah menjalankan program vaksinasi campak-rubela secara nasional sebagai langkah untuk memperluas perlindungan terhadap anak-anak yang sebelumnya belum memperoleh dosis vaksin. Program tersebut juga mendapat dukungan dari WHO, UNICEF, dan Gavi.
Upaya vaksinasi sebenarnya telah menunjukkan cakupan yang luas. Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada akhir Juni menyebut lebih dari 18,4 juta anak telah mendapatkan vaksin melalui kampanye nasional, melampaui target awal sekitar 18 juta anak.
Namun, tingginya cakupan vaksinasi belum serta-merta menghentikan penyebaran penyakit. Kesenjangan imunisasi sebelumnya, keterlambatan pelaksanaan sejumlah program, serta masih adanya kelompok anak yang rentan menjadi tantangan dalam pengendalian wabah.
WHO sebelumnya menyebut penurunan cakupan imunisasi rutin dan kekosongan stok vaksin campak-rubela pada periode 2024-2025 turut meningkatkan jumlah anak yang rentan terhadap infeksi. Selain itu, Bangladesh tidak menjalankan kampanye imunisasi campak-rubela tambahan secara rutin dalam skala nasional sejak 2020.
Para ahli kesehatan menilai pengendalian wabah membutuhkan kombinasi vaksinasi, pemantauan kasus dan kesiapan fasilitas kesehatan. Perlindungan terhadap anak-anak yang rentan juga perlu diperkuat, terutama di wilayah padat penduduk dan kelompok masyarakat dengan akses layanan kesehatan yang terbatas.
Dengan jumlah kasus yang masih tinggi, wabah campak di Bangladesh menjadi pengingat bahwa keberhasilan pengendalian penyakit menular sangat bergantung pada keberlanjutan imunisasi. Penanganan cepat terhadap anak yang sakit juga diperlukan untuk mencegah komplikasi dan menekan risiko kematian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....