Gelombang Panas Ekstrem di Jepang Tewaskan Tiga Singa Kebun Binatang Tokyo

  • 04 Agt 2026 19:50 WIB
  •  Bogor
Poin Utama
  • Tiga singa betina di Tama Zoological Park, Tokyo, diduga mati akibat serangan panas (heatstroke) di tengah gelombang panas ekstrem yang melanda Jepang, sementara sejumlah singa lainnya masih menjalani perawatan.
  • Cuaca panas dengan suhu mencapai sekitar 40 derajat Celsius dan kelembapan tinggi diduga menjadi faktor yang memperburuk kondisi singa, hingga menyebabkan dehidrasi dan kegagalan fungsi beberapa organ.
  • Pengelola kebun binatang memperketat langkah mitigasi dengan menutup sementara kandang singa, meningkatkan penyiraman air, memperbaiki ventilasi, dan memasang pendingin udara untuk melindungi satwa yang masih dirawat.

RRI.CO.ID, Bogor - Tiga ekor singa betina di Tama Zoological Park, Tokyo, dilaporkan mati akibat dugaan serangan panas (heatstroke) di tengah gelombang panas ekstrem yang melanda Jepang. Dikutip melalui AFP, pihak kebun binatang pada Selasa, 4 Agustus 2026, menyebut sejumlah singa lainnya masih menjalani perawatan karena mengalami gangguan kesehatan.

Jepang sedang menghadapi musim panas dengan suhu yang sangat tinggi setelah tahun lalu mencatat musim panas terpanas dalam sejarah. Dalam beberapa pekan terakhir, suhu di sejumlah wilayah bahkan mencapai sekitar 40 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan yang tinggi.

Dari 16 ekor singa yang dipelihara di kebun binatang tersebut, sebanyak 10 ekor mulai menunjukkan penurunan kondisi sejak pertengahan Juli. Gejala yang muncul di antaranya hilangnya nafsu makan serta berkurangnya aktivitas dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Tiga singa betina tersebut akhirnya mati secara bergantian setelah kondisi kesehatannya terus menurun akibat dugaan serangan panas. Ketiganya terdiri atas singa berusia 3 tahun, 11 tahun, dan 15 tahun yang tidak berhasil diselamatkan meski telah mendapat penanganan.

Dokter hewan menduga kematian ketiga satwa tersebut dipicu serangan panas yang menyebabkan dehidrasi hingga kegagalan fungsi beberapa organ. Untuk mendukung proses penanganan, pengelola menutup sementara area kandang singa yang biasanya menjadi salah satu daya tarik pengunjung.

Pihak kebun binatang menjelaskan bahwa singa memang dikenal mampu hidup di lingkungan bersuhu tinggi. Namun, panas yang disertai kelembapan tinggi di Jepang dinilai lebih sulit ditoleransi dibandingkan panas yang kering seperti di habitat alaminya di Afrika.

Gelombang panas disebut datang secara tiba-tiba setelah musim hujan berakhir pada akhir Juli. Sebagai langkah antisipasi, petugas meningkatkan penyiraman air, memperbaiki sistem ventilasi, serta memasang pendingin udara di beberapa titik kandang.

Hingga kini, sejumlah singa lainnya masih berada dalam pengawasan intensif tim dokter hewan. Peristiwa ini juga menjadi perhatian di tengah meningkatnya dampak cuaca panas ekstrem yang tidak hanya memengaruhi manusia, tetapi juga satwa di penangkaran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....