Bank Dunia Bahas Inklusi dan Inovasi Keuangan Syariah

  • 26 Jul 2026 07:12 WIB
  •  Bogor
Poin Utama
  • Konferensi Internasional Ekonomi dan Keuangan Syariah untuk Pembangunan Berkelanjutan (IFESDC) 2026 menjadi wadah kolaborasi berbagai pemangku kepentingan untuk membahas penguatan ekonomi syariah di era digital.
  • Konferensi juga mengangkat potensi sektor halal, agribisnis, serta penguatan dana sosial syariah seperti zakat dan wakaf sebagai instrumen pembangunan ekonomi.

RRI.CO.ID, Bogor - Konferensi Internasional Ekonomi dan Keuangan Syariah untuk Pembangunan Berkelanjutan (IFESDC) 2026 menjadi wadah kolaborasi berbagai pemangku kepentingan untuk membahas penguatan ekonomi syariah di era digital. Forum yang berlangsung di Kantor Pusat Bank Dunia, Washington D.C., itu mempertemukan akademisi, regulator, pelaku industri, dan lembaga internasional guna mendorong sistem keuangan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Dalam konferensi itu menghadirkan tokoh, di antaranya Presiden Indonesian Muslim Association in America (IMAAM), Firdaus Kadir, Alternate Executive Director EDS16 Bank Dunia, Nakhafi Hassan, serta Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo. Para pembicara menekankan pentingnya kolaborasi global dalam memperluas akses keuangan syariah yang berlandaskan prinsip etika, keadilan, dan pembangunan berkelanjutan.

Salah satu pembahasan utama dalam konferensi adalah pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas inklusi keuangan syariah. Berbagai narasumber menilai digitalisasi mampu mempercepat akses masyarakat terhadap layanan keuangan, sekaligus meningkatkan efisiensi dan memperkuat kepercayaan publik terhadap industri keuangan syariah.

Chief Economist Bank Dunia untuk Asia, Franziska Ohnsorge, mengatakan investasi pada sumber daya manusia dan reformasi sektor jasa menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Liberalisasi sektor jasa dan investasi pada sumber daya manusia dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas kesempatan kerja bagi lebih banyak masyarakat," ujarnya, Minggu 26 Juni 2026.

Selain transformasi digital, peserta konferensi juga membahas pengembangan pembiayaan infrastruktur, pembiayaan perumahan syariah, serta penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam layanan keuangan. Diskusi turut menyoroti pentingnya regulasi yang adaptif agar inovasi digital tetap berjalan seiring dengan perlindungan konsumen dan integritas sistem keuangan.

Executive Vice President dan Head of Sharia Business PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI), Arief Subekti, menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat pembiayaan syariah berkelanjutan di kawasan.

“Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis untuk menjadi hub regional pembiayaan syariah berkelanjutan dan berdampak. Melalui peran sebagai katalis pembangunan, kami terus mendorong hadirnya pembiayaan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," kata Arief.

Konferensi juga mengangkat potensi sektor halal, agribisnis, serta penguatan dana sosial syariah seperti zakat dan wakaf sebagai instrumen pembangunan ekonomi. Melalui rangkaian diskusi tersebut, IFESDC 2026 diharapkan memperkuat kerja sama internasional dalam membangun ekosistem ekonomi dan keuangan syariah yang inklusif, inovatif, serta mampu mendukung pembangunan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....