Gelombang Panas Ekstrem Selimuti Eropa, Ratusan Juta Warga Terdampak
- 25 Jun 2026 17:26 WIB
- Bogor
Poin Utama
- Gelombang panas ekstrem melanda Eropa, dengan suhu di sejumlah wilayah melebihi 35 derajat Celsius.
- Jutaan warga di berbagai negara terdampak, termasuk Prancis, Spanyol, Jerman, Italia, dan Inggris.
- Perubahan iklim disebut memperparah cuaca ekstrem, sehingga gelombang panas menjadi lebih sering dan intens.
RRI.CO.ID, Bogor – Gelombang panas ekstrem terus melanda berbagai negara Eropa dengan suhu yang mencapai lebih dari 35 derajat Celsius. Kondisi ini membuat jutaan warga menghadapi cuaca yang bahkan lebih panas dibandingkan sejumlah wilayah di Afrika.
Berdasarkan perkiraan cuaca terbaru pada Kamis, 25 Juni 2026, sedikitnya 101 juta orang diperkirakan mengalami suhu di atas 35 derajat Celsius. Sementara itu, lebih dari 380 juta penduduk Eropa diprediksi menghadapi temperatur yang melampaui 30 derajat Celsius.
Prancis dan Spanyol menjadi dua negara yang mengalami dampak paling signifikan. Otoritas setempat mulai mencatat meningkatnya jumlah korban yang diduga berkaitan dengan suhu panas ekstrem.
Di Prancis, sebagian besar wilayah berada dalam status peringatan panas tinggi. Sekitar 63 juta dari total 67 juta penduduk negara tersebut diperkirakan merasakan suhu di atas 30 derajat Celsius.
Kondisi serupa juga terjadi di Jerman, Italia, dan Inggris. Puluhan juta warga di negara-negara tersebut harus menghadapi cuaca panas yang tidak biasa untuk bulan Juni 2026.
Para ilmuwan menilai perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia berperan dalam meningkatkan intensitas gelombang panas. Kenaikan suhu global membuat cuaca ekstrem semakin sering terjadi dan berpotensi mencetak rekor baru.
Fenomena yang dikenal sebagai "heat dome" atau kubah panas disebut menjadi salah satu penyebab utama kondisi ini. Massa udara panas dari Afrika Utara terjebak dalam sistem tekanan tinggi sehingga menghambat masuknya udara yang lebih sejuk.
Dampak gelombang panas tidak hanya dirasakan oleh masyarakat, tetapi juga mengganggu berbagai aktivitas publik. Sejumlah acara luar ruangan dibatalkan dan layanan transportasi di beberapa negara mengeluarkan peringatan terkait potensi gangguan operasional.
Otoritas kesehatan mengingatkan bahwa suhu ekstrem dapat meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga serangan panas atau heatstroke. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit tertentu menjadi pihak yang paling berisiko terdampak.
Meski suhu di sebagian wilayah Eropa Barat diperkirakan mulai menurun dalam beberapa hari mendatang, kawasan Eropa Timur masih menghadapi ancaman cuaca panas. Pemerintah dan lembaga terkait terus mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan serta menjaga asupan cairan guna mengurangi risiko kesehatan akibat gelombang panas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....