Virus Ebola Merebak di Republik Demokrat Kongo
- 21 Mei 2026 15:17 WIB
- Bogor
Poin Utama
- Wabah
- Wabah
RRI.CO.ID, Bogor - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi mendeklarasikan status Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (PHEIC) menyusul merebaknya strain langka Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda. Meskipun situasi ini sangat mengkhawatirkan, WHO menegaskan bahwa wabah ini belum dikategorikan sebagai pandemi.
Berdasarkan data terbaru dari CDC Afrika, virus bermanifestasi mematikan ini telah menyebabkan 88 kematian dan memicu 336 kasus terduga infeksi demam berdarah yang sangat menular di wilayah tersebut. Kekhawatiran global semakin meningkat karena wabah ini disebabkan oleh strain Bundibugyo, jenis virus Ebola yang hingga saat ini belum memiliki vaksin ataupun metode pengobatan khusus.
Menteri Kesehatan Kongo, Samuel-Roger Kamba, dalam keterangan resminya memperingatkan bahwa strain ini sangat berbahaya dengan tingkat fatalitas mencapai 50 persen. Sebagai perbandingan, vaksin yang ada saat ini hanya efektif melawan strain Zaire yang ditemukan pada tahun 1976, sementara strain baru ini terus menyebar bahkan telah merenggut nyawa seorang warga di negara tetangga, Uganda.
Pusat wabah terkonfirmasi berada di Provinsi Ituri, Kongo timur laut, dengan "pasien nol" yang teridentifikasi sebagai seorang perawat di kota Bunia pada akhir April lalu. Kondisi di lapangan dilaporkan sangat memprihatinkan akibat keterbatasan fasilitas medis; banyak pasien meninggal di rumah tanpa isolasi, sehingga jenazah mereka terpaksa ditangani langsung oleh keluarga.
Mobilitas penanganan juga terhambat oleh tantangan geografis logistik di Kongo, negara dengan populasi lebih dari 100 juta jiwa, di tengah laju penularan yang sangat cepat. Peristiwa ini menandai wabah Ebola ke-17 yang melanda Kongo, memicu peringatan serius dari WHO mengenai potensi ledakan kasus yang jauh lebih besar dari yang saat ini terdeteksi.
Secara historis, virus yang berasal dari kelelawar ini telah menewaskan sekitar 15.000 orang di Afrika selama setengah abad terakhir, termasuk gelombang paling mematikan di Kongo pada 2018–2020 yang menewaskan hampir 2.300 orang. Dengan tingkat kematian historis berkisar antara 25 hingga 90 persen, WHO mendesak kesiapsiagaan penuh untuk menekan risiko penyebaran yang lebih luas di tingkat regional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....