Krisis Sampah Asia Tenggara Makin Parah, Greenpeace Desak ASEAN Bertindak

  • 12 Mei 2026 17:26 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Rentetan bencana di sejumlah tempat pembuangan sampah di Asia Tenggara memunculkan kekhawatiran serius terhadap krisis lingkungan di kawasan tersebut. Organisasi kampanye lingkungan global, Greenpeace, menilai kejadian itu menjadi tanda kegagalan sistem pengelolaan sampah yang semakin mendesak untuk dibenahi.

Awal tahun 2026, longsor sampah dilaporkan terjadi di Kota Cebu dan Rizal, Filipina. Tidak lama kemudian, tragedi serupa juga terjadi di TPST Bantar Gebang, Indonesia, yang menyebabkan korban jiwa di kalangan pekerja dan warga sekitar.

Selain longsor sampah, sejumlah lokasi pembuangan di Thailand dan Malaysia dilaporkan mengalami kebakaran besar. Asap beracun dari kebakaran tersebut menyelimuti kawasan sekitar dan memicu ancaman kesehatan bagi masyarakat.

Greenpeace menilai rangkaian bencana ini bukan sekadar insiden terpisah antarnegara. Krisis sampah dan polusi plastik disebut telah berkembang menjadi persoalan regional yang membutuhkan langkah bersama di tingkat Asia Tenggara.

Pada pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-48 di Cebu, Filipina pada Jumat, 8 Mei 2026 lalu, saat para aktivis lingkungan menggelar aksi damai. Mereka membawa pesan mendesak agar negara-negara ASEAN segera mengurangi ketergantungan terhadap plastik dan bahan bakar fosil.

Krisis plastik di kawasan ASEAN disebut sudah berada pada level mengkhawatirkan. Enam negara di kawasan ini diperkirakan menghasilkan hingga 31 juta ton sampah plastik setiap tahun.

Dampaknya tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga kesehatan dan perekonomian masyarakat. Mikroplastik disebut berpotensi merusak tanaman pangan global, sementara pencemaran laut menyebabkan kerugian ekonomi bernilai sangat besar.

Kelompok masyarakat rentan seperti warga berpenghasilan rendah, perempuan, dan masyarakat adat menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka menghadapi risiko kesehatan dan kerusakan lingkungan meski bukan penyumbang utama krisis plastik di kawasan tersebut.

Greenpeace juga menyoroti hubungan erat antara industri plastik dan bahan bakar fosil. Hampir seluruh produksi plastik dunia berasal dari industri petrokimia yang bergantung pada energi fosil.

Organisasi lingkungan itu mendesak ASEAN segera mempercepat pengurangan plastik sekali pakai dan memperluas sistem guna ulang. Langkah tersebut dinilai penting agar kawasan Asia Tenggara tidak terus terjebak dalam krisis polusi plastik dan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....