Awal Mula Perang Thailand-Kamboja Kini Capai Kesepakatan

  • 29 Jul 2025 07:15 WIB
  •  Bogor

KBRN, Bogor: Ketegangan antara Thailand dan Kamboja kembali meningkat tajam, memunculkan kekhawatiran akan pecahnya konflik bersenjata terbuka di kawasan Asia Tenggara. Meski hubungan kedua negara sempat membaik, gesekan lama terkait sengketa perbatasan, terutama di sekitar wilayah Candi Preah Vihear, kembali memicu ketegangan yang kini mencapai titik kritis.

Konflik antara Thailand dan Kamboja bukan hal baru. Akar sejarahnya bisa ditelusuri hingga berabad-abad lalu, ketika wilayah-wilayah kekuasaan di Semenanjung Indochina terus berganti tangan. Namun, sengketa modern yang paling menonjol bermula pada awal abad ke-20, saat kekuasaan kolonial Prancis (yang menguasai Kamboja) dan Inggris (yang mempengaruhi Siam/Thailand) menyusun peta perbatasan yang tidak pernah benar-benar disepakati kedua pihak.

Masalah semakin kompleks saat Mahkamah Internasional (ICJ) pada tahun 1962 memutuskan bahwa Candi Preah Vihear, sebuah kompleks kuil bersejarah di perbatasan, merupakan milik Kamboja. Meski demikian, wilayah di sekitar candi tetap menjadi sumber ketegangan, karena kedua negara mengklaim bagian dari lahan di sekitarnya.

Pada tahun 2008 hingga 2011, bentrokan bersenjata sempat terjadi di kawasan tersebut, menewaskan puluhan tentara dan warga sipil dari kedua belah pihak. Meski sempat mereda setelah upaya mediasi internasional dan pengawasan PBB, sengketa ini kembali memanas belakangan ini.

Pemicu ketegangan terbaru disebut-sebut berkaitan dengan aktivitas militer yang meningkat di perbatasan serta proyek infrastruktur baru yang dibangun dekat zona sengketa. Kedua negara saling tuding melakukan provokasi dan pelanggaran wilayah.

Pemerintah Thailand mengklaim Kamboja telah memperkuat pos militernya secara sepihak, sementara pihak Kamboja menuduh Thailand melakukan pelanggaran wilayah udara. Suasana pun semakin panas dengan tersebarnya narasi nasionalisme dan sentimen anti-tetangga di media sosial kedua negara.

Para analis politik Asia Tenggara menyarankan agar ASEAN segera turun tangan sebelum situasi berkembang menjadi perang terbuka. Mereka menekankan pentingnya diplomasi dan penghormatan terhadap keputusan hukum internasional demi menjaga stabilitas kawasan.

Kedua negara memiliki kepentingan besar dalam menjaga perdamaian, baik dari sisi ekonomi, pariwisata, hingga hubungan internasional. Namun, jika tak segera diredakan, konflik ini bisa meluas dan mengancam tatanan geopolitik ASEAN yang selama ini dikenal stabil.

Kini, Gencatan senjata antara Kamboja dan Thailand resmi berlaku tepat pada penghujung hari Senin pukul 24:00 waktu setempat menyusul pertempuran bersenjata sejak pekan lalu. Indonesia dukung penuh gencatan senjata tersebut, Dalam negosiasi gencatan senjata di rumah dinas Perdana Menteri Anwar di Putrajaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....