Konsumsi Energi Naik, Google Kesulitan Pangkas Emisi
- 29 Jun 2025 20:33 WIB
- Bogor
KBRN, Bogor: Google tengah menghadapi tantangan besar dalam upaya keberlanjutannya. Dalam laporan terbaru yang dirilis pada 2025, perusahaan mengungkapkan bahwa total emisi karbonnya selama tahun 2024 meningkat drastis sebesar 11 persen, mencapai angka 11,5 juta metrik ton karbon dioksida.
Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 51 persen dibandingkan tahun 2019. Penyebab utamanya adalah melonjaknya kebutuhan energi, terutama yang dipicu oleh perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI). Google menyebut ledakan AI telah membuat jalur pengurangan emisi menjadi tidak menentu dan sulit dikendalikan.
Sebuah tabel dalam laporan menunjukkan bahwa total emisi Google sebenarnya telah menembus 15,18 juta metrik ton, jumlah yang setara dengan emisi tahunan dari hampir 40 pembangkit listrik berbahan bakar gas. Kenaikan ini menambah beban berat bagi perusahaan yang sebelumnya menargetkan pengurangan emisi karbon sebesar 50% pada 2030.
Meskipun penggunaan energi di pusat data meningkat akibat pengoperasian AI, Google mencatat adanya penurunan emisi karbon sebesar 12% dari pusat data berkat perbaikan efisiensi. Namun, pengurangan ini belum mampu menahan laju peningkatan total emisi.
Dalam laporan yang dirilis The Verge pada Sabtu (28/6/2025), Google juga menyinggung hambatan eksternal yang memperlambat transisi ke energi bersih. Beberapa faktor yang disebut antara lain kebijakan energi yang tidak konsisten, lambatnya adopsi teknologi bebas karbon, dan keterbatasan pasokan energi bersih di beberapa wilayah.
“Faktor-faktor eksternal ini bisa memengaruhi biaya, kelayakan, dan jadwal pencapaian target kami. Kami perlu tetap fleksibel dalam menghadapinya,” tulis perusahaan asal Amerika Serikat itu.
Isu ini tidak hanya menimpa Google. Perusahaan teknologi lainnya seperti Microsoft dan Meta juga dilaporkan mengalami tekanan serupa, karena AI membutuhkan daya komputasi dan energi dalam skala besar. Bahkan, AI diperkirakan akan mengonsumsi lebih banyak energi daripada Bitcoin secara global pada akhir tahun ini.
Sementara beberapa perusahaan mencoba merancang sistem AI yang lebih hemat energi, langkah tersebut belum cukup untuk menahan laju konsumsi energi secara keseluruhan. Ironisnya, pembangunan pusat data besar berbahan bakar fosil justru meningkat, seperti yang dilakukan Meta di Louisiana.
Kondisi ini diperparah dengan arah kebijakan terbaru Presiden AS Donald Trump, yang justru mendorong penggunaan batu bara sebagai sumber energi untuk pusat data AI, lewat perintah eksekutif yang kontroversial.
Situasi ini membuat masa depan netral karbon di sektor teknologi menjadi semakin kompleks. Upaya pengurangan emisi memerlukan terobosan inovatif, komitmen global, dan kebijakan yang berpihak pada energi bersih agar target iklim tetap dalam jangkauan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....