Jembatan Perdamaian, Pidato Pertama Paus Leo XIV

  • 09 Mei 2025 05:47 WIB
  •  Bogor

KBRN, Bogor: Suasana sukacita membahana di Basilika Santo Petrus. Puluhan ribu umat Katolik dari seluruh dunia tumpah ruah, bersorak menyambut Paus Leo XIV, penerus Paus Fransiskus yang baru saja wafat. Dari balkon Basilika, Paus Leo menyampaikan pidato pertamanya, sebuah pesan damai yang menyentuh hati jutaan orang.

"Kepada semua orang, di manapun mereka berada, kepada semua bangsa, kepada seluruh bumi, damai sejahtera besertamu," ujarnya dengan senyum ramah, menyapa lautan manusia di bawahnya. Kalimat sederhana ini menjadi inti dari pesan Paus Leo: membangun jembatan perdamaian melalui dialog dan persatuan.

Pidato tersebut disambut dengan tepuk tangan meriah. Sorak sorai semakin membahana ketika Paus Leo, yang pernah bertahun-tahun menjadi misionaris di Peru, berpidato dalam bahasa Spanyol. Ia juga memberikan penghormatan kepada pendahulunya, Paus Fransiskus, yang kepergiannya masih menyisakan kesedihan mendalam.

"Kita masih terngiang suara Paus Fransiskus yang lemah, namun selalu berani," kenangnya, merujuk pada pidato Paskah terakhir Paus Fransiskus. "Kita harus bersama-sama mencari cara menjadi Gereja yang misioner, Gereja yang membangun jembatan, yang berdialog, yang selalu terbuka."

Paus Leo, yang sebelumnya dikenal sebagai Kardinal Robert Francis Prevost, bukanlah figur yang sangat dikenal luas di kalangan umat Katolik awam. Namun, pemilihannya sebagai Paus ke-267 disambut antusias oleh para pemimpin dunia. Mereka menjanjikan kerja sama dengan Gereja dalam menghadapi berbagai tantangan global di tengah ketidakpastian geopolitik.

Presiden AS Donald Trump, melalui media sosialnya, turut menyampaikan selamat atas terpilihnya Paus Leo. "Merupakan suatu kehormatan besar mengetahui bahwa dia adalah Paus Amerika pertama," tulis Trump. Pernyataan ini cukup mengejutkan mengingat perbedaan pandangan politik antara Paus Leo dan Trump di masa lalu. Sebagai Kardinal, Prevost dikenal vokal membela kaum miskin dan mengkritik kebijakan anti-imigran Trump.

Pemilihan Paus Leo berlangsung relatif cepat, kurang dari dua hari. Meskipun detail pemungutan suara dirahasiakan, ia berhasil mendapatkan suara dua pertiga yang dibutuhkan untuk terpilih. Konklaf kali ini juga tercatat sebagai konklaf paling internasional sepanjang sejarah, dengan para kardinal berasal dari 70 negara. Sekitar 80% dari para kardinal yang memilihnya merupakan mereka yang diangkat oleh Paus Fransiskus.

Reaksi umat Katolik di Lapangan Santo Petrus sangat luar biasa. Asap putih yang menandakan terpilihnya Paus baru disambut dengan lonceng gereja yang berdentang meriah dan sorak sorai massa yang tak terbendung. "Rasanya luar biasa," ujar Joseph Brian, seorang koki asal Irlandia Utara yang datang ke Roma untuk menyaksikan momen bersejarah ini. "Saya bukan orang yang terlalu religius, tapi berada di sini bersama semua orang ini sungguh mengagumkan."

Paus Leo kini menghadapi tugas yang monumental yaitu menyatukan Gereja yang terpecah, menangani skandal pelecehan seksual, dan menyuarakan suara moral di tengah gejolak dunia. Namun, dengan pesan damai dan komitmennya pada dialog, Paus Leo diharapkan mampu menjadi jembatan penghubung di tengah dunia yang terpecah. Pelantikannya akan berlangsung dalam waktu dekat, disaksikan oleh para pemimpin dunia dan agama dari seluruh penjuru dunia.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....