Komisi VII DPR RI Bentuk Panja AMDK Lindungi Ekosistem dan Konsumen

  • 26 Jun 2026 10:30 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) memiliki dampak signifikan terhadap kondisi dan ketersediaan air di Indonesia. Keberadaan jenis usaha itupun kerap dijadikan kambing hitam sebagai akibat dampak keringnya sumur dan sumber air warga disekitar perusahaan tersebut berdiri.

Hal tersebut terungkap dalam Kunjungan Kerja Komisi VII DPR RI ke Fasilitas Produksi Air Minum Dalam Kemasan PT. Akhasa Wira International di Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor , Kamis 25 Juni 2026 pagi. Perusahaan yang merupakan grup nestle tersebut memproduksi air minum dalam kemasan dengan berbagai merek dagang, Maklon sesuai pesanan dalam skala yang sangat besar.

Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, menyoroti temuan dalam ketidak adilan distribusi ari bersih antara industry dan komunitas. Menurutnya ada kapitalisasi komoditas air yang regulasinya harus lebih diperdalam.

"Saya meminta pemerintah melalui stakeholder terkait mengaudit operasional pabrik AMDK, mulai dari produksi hingga disribusi. Kami menginginkan masyarakat aman dari bahaya mikroplastik, jangan hanya mencari keuntungan, tetapi juga mereka harus berkeadilan. baik dari sisi sosial maupun ekologinya" kata Novita, Kamis 26 Juni 2026.

Seperti diketahui, masyarakat yang terpapar air yang mengandung mikroplastik bisa mengakibatkan mereka mengalami stres oksidatif, peradangan, gangguan hormon, gangguan reproduksi hingga kardiovaskular. Sementara, industri AMDK tidak dipungkiri biasa menggunakan biji plastik daur ulang untuk pengemasan botol atau gelas plastiknya.

Wilayah Bogor merupakan daerah dengan curah hujan tinggi dan dapat dikatakan memiliki kelimpahan ketersediaan air bersih. Dan terbukti banyak industru AMDK yang berdiri di Kabupaten Bogor beberapa diantaranya banyak memanfaatkan air bawah tanah dan sumber mata air pegunungan.

Menjawab persoalan adanya penggunaan air dalam skala besar itupun. Head Factori PT. Akhasa Wira International Bapak Efendi mengatakan apabila pemanfaatan air yang digunakan untuk kegiatan produksinya dibeli dari PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor.

"Kami tidak menggunakan air bawah tanah untuk kegiatan produksi, untuk kebutuhan rumah tangga seperti mencuci dan MCk kami menerapkan sistim tadah hujan mengolah air hujan untuk di gunakan untuk kebutuhan di luar produksi jadi tidak mempengaruhi sumber air tanah di lingkungan, adapaun yang dulu viral itu terjadi pada Nestle Internasional dan bukan di Ciriung Cibinong," tambah Efendi.

Industri AMDK umumnya mendirikan pabrik di wilayah kaki gunung. Seperti kawasan Caringin dan sepanjang jalan Sukabumi Bogor. Karena kualitas air bawah tanahnya yang kaya mineral dan murni. Pengambilan air bawah tanah dan pegunungan terus-menerus juga memicu masalah ketimpangan distribusi air antara masyarakat adat atau petani lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....