Suhu 50°C Mengancam Haji 2025
- 16 Jan 2025 05:54 WIB
- Bogor
KBRN, Bogor: Fenomena panas ekstrem yang melanda Makkah selama musim haji tahun 2024 menyebabkan sekitar 1.300 jemaah haji meninggal dunia, menjadi peringatan keras bagi otoritas Saudi. Suhu yang melonjak hingga 51,8 derajat Celsius pada bulan Juni tahun lalu mengancam keselamatan jutaan peziarah yang datang untuk menunaikan ibadah haji, salah satu dari lima rukun Islam.
Menurut laporan dari AFP, banyak dari korban meninggal dunia tahun lalu adalah jemaah haji ilegal yang tidak memiliki izin resmi, sehingga mereka tidak bisa mengakses fasilitas perlindungan seperti tenda ber-AC yang disediakan untuk jemaah yang terdaftar.
Sebagai upaya untuk menghindari kejadian serupa, pemerintah Saudi diperkirakan akan lebih ketat dalam mengendalikan akses dan jumlah jemaah yang datang.
Abderrezak Bouchama, peneliti di Pusat Penelitian Medis Internasional Raja Abdullah, menyatakan bahwa otoritas Saudi kemungkinan besar akan memfokuskan upaya pada pengurangan jumlah jemaah ilegal. Meskipun begitu, ia mencatat bahwa pengenalan teknologi jangka panjang seperti sensor yang dapat mengenali tekanan panas mungkin tidak akan terlaksana dalam waktu dekat. Meskipun demikian, berbagai langkah mitigasi panas sudah diterapkan sejak tahun lalu.
Beberapa langkah yang telah diambil antara lain adalah penyediaan ruangan ber-AC di dekat Ka'bah yang memungkinkan para jemaah untuk menyejukkan diri setelah beribadah. Di sepanjang jalan yang digunakan untuk sa'i, antara bukit Safa dan Marwa, jalur-jalur yang terkendali suhunya telah diperkenalkan, sementara aspal di sekitar area juga dilapisi dengan bahan pendingin untuk menurunkan suhu hingga 20%. Langkah-langkah ini bertujuan untuk mencegah jemaah terkena dampak langsung dari suhu ekstrem.
Distribusi air, payung, dan pemberian informasi untuk mencegah hipertermia juga menjadi bagian dari upaya mitigasi yang dilakukan oleh para relawan. Namun, Bouchama menegaskan bahwa pendinginan dengan menggunakan AC adalah langkah paling efektif untuk melindungi jemaah dari suhu panas yang mematikan.
"Air minum membantu, tetapi itu tidak cukup. Anda harus keluar dari panas," jelasnya.
Karim Elgendy, peneliti di lembaga pemikir Chatham House, menambahkan bahwa Saudi perlu lebih fokus pada pengendalian cuaca ekstrem, yang bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan baik. Menurutnya, selama ini fokus penanganan cenderung lebih kepada peningkatan infrastruktur dan pengendalian massa. Oleh karena itu, diharapkan bahwa haji 2025 akan melibatkan penguatan infrastruktur mitigasi panas serta pengendalian kapasitas yang lebih ketat untuk mengurangi risiko bagi jemaah.
Dengan persiapan yang matang dan langkah-langkah mitigasi yang lebih baik, diharapkan musim haji tahun ini dapat berjalan lancar dan aman bagi seluruh jemaah yang datang ke tanah suci.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....