Bonchie Yoskarina Bawa Dongeng Menembus Generasi Digital
- 29 Agt 2026 08:10 WIB
- Bogor
Poin Utama
- Bonchie Yoskarina, pendongeng asal Bogor, memiliki perjalanan yang cukup unik hingga akhirnya menekuni dunia mendongeng
- Perjalanan Bonchie semakin serius ketika ia mendapat ajakan dari Kak Aio, pendongeng sekaligus bagian dari jejaring KALAM, untuk mendongeng di sebuah rumah sakit bagi anak-anak penyintas kanker
- Perkembangan teknologi bagi Bonchie bukan semata-mata ancaman bagi keberlangsungan dongeng, melainkan juga peluang untuk memperluas jangkauannya
RRI.CO.ID, Bogor- Bonchie Yoskarina, pendongeng asal Bogor, memiliki perjalanan yang cukup unik hingga akhirnya menekuni dunia mendongeng. Ketertarikannya berawal dari keterlibatan di lingkungan musik dan ruang interaksi komunitas di Bogor pada awal 2000-an. Dari aktivitas tersebut, ia kemudian berkenalan dengan Taman Baca Masyarakat Sanggar Barudak dan terlibat bersama KALAM dalam berbagai kegiatan untuk anak-anak. Salah satu aktivitasnya adalah membacakan cerita yang kemudian berkembang menjadi kegiatan mendongeng secara rutin.
Perjalanan Bonchie semakin serius ketika ia mendapat ajakan dari Kak Aio, pendongeng sekaligus bagian dari jejaring KALAM, untuk mendongeng di sebuah rumah sakit bagi anak-anak penyintas kanker. Saat itu, Bonchie masih merasa kurang percaya diri tampil sendirian sehingga mengajak teman-teman band untuk bernyanyi sekaligus mengiringi cerita.
Pengalaman tersebut justru membuatnya menemukan keseruan dalam mendongeng. Ia kemudian mendapat kesempatan tampil di berbagai taman di Jakarta dan Bogor hingga dipercaya mengisi kegiatan mendongeng rutin di Taman Ade Irma Suryani atau Taman Topi Bogor. Pada 2013, ia turut mengisi Festival Dongeng Indonesia dan terus menekuni dunia tersebut hingga kini.
Bagi Bonchie, mendongeng bukan sekadar aktivitas menyampaikan cerita atau pesan moral kepada orang lain. Ia memandang dongeng sebagai media untuk menyampaikan rasa dan asa melalui cerita dengan cara yang menyenangkan. Di saat yang sama, cerita yang dibawakan juga menjadi pengingat bagi dirinya sendiri. Pandangan tersebut membuat aktivitas mendongeng tidak hanya berorientasi kepada penonton, tetapi juga menjadi proses refleksi bagi sang pendongeng.
Sebagai pendongeng dari Bogor, Bonchie juga berupaya menghidupkan kembali cerita-cerita yang pernah dekat dengan masa kecilnya. Ia mengaku belum banyak mengangkat cerita yang secara spesifik berasal dari Bogor, tetapi masih mengingat kisah tokoh seperti sakadang monyet, sakadang kuya, dan sakadang peucang yang dahulu dikenalnya melalui buku berbahasa Sunda.
Cerita-cerita tersebut kemudian ia ulik kembali dan dikemas untuk beberapa penampilan. Ia juga pernah mengangkat RUBO, maskot Kota Bogor, sebagai tokoh dalam dongengnya. Di tengah dominasi konten digital yang serba cepat dan visual, Bonchie melihat dongeng memiliki kekuatan yang berbeda. Menurutnya, ada tiga hal yang menjadi keunggulan dongeng, yaitu emosi, imajinasi, dan nilai.
Jika konten digital dapat memberikan kecepatan dan visual yang menarik, dongeng memberikan ruang kepada audiens untuk merasakan, bertanya, serta membangun imajinasi sendiri. Karena itu, dongeng tidak harus bersaing dengan teknologi dengan menjadi lebih cepat, melainkan dengan menghadirkan pengalaman yang lebih manusiawi melalui tawa, interaksi, jeda, dan koneksi.
Keterlibatan audiens menjadi salah satu cara Bonchie menjaga cerita tetap hidup. Ia terbiasa mengajak pendengar masuk ke dalam alur cerita sehingga pertunjukan dapat berkembang secara spontan. Respons audiens terkadang membuatnya harus melakukan improvisasi, tetapi justru hal tersebut menjadi bagian yang menyenangkan.
Bagi Bonchie, mendongeng tidak selalu membutuhkan perubahan banyak suara atau penggunaan berbagai media. Hal terpenting adalah kemampuan menyampaikan emosi secara tepat melalui kata, gerak, ekspresi, dan suara. Ia juga menilai dongeng penting untuk menyampaikan nilai keberanian, persahabatan, kejujuran, serta kepedulian dengan cara yang lembut dan tidak menggurui.
Perkembangan teknologi bagi Bonchie bukan semata-mata ancaman bagi keberlangsungan dongeng, melainkan juga peluang untuk memperluas jangkauannya. Dongeng dapat dikemas melalui video pendek, animasi, musik, efek suara, hingga cerita interaktif. Tantangannya adalah membuat seni bercerita tetap relevan bagi generasi yang terbiasa dengan video singkat, gim, dan konten visual.
Karena itu, pendongeng perlu beradaptasi tanpa kehilangan nilai yang dibawa cerita. Bonchie juga mendorong keberadaan komunitas sebagai ruang belajar sekaligus regenerasi pendongeng. Kepada anak muda Bogor yang ingin mencoba, ia berpesan sederhana: mulai saja terlebih dahulu. Jika ingin menjadi profesional, diperlukan konsistensi, banyak pengalaman, kemauan belajar, menemukan gaya sendiri, serta tetap rendah hati.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....