Minat Urban Farming Terus Meningkat di Perkotaan
- 21 Jul 2026 15:29 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Di tengah semakin padatnya kawasan perkotaan dan terbatasnya lahan hijau, tren urban farming atau pertanian perkotaan semakin diminati masyarakat. Aktivitas yang awalnya hanya menjadi hobi kini berkembang menjadi gaya hidup sehat sekaligus solusi untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
Urban farming merupakan kegiatan bercocok tanam yang dilakukan di lingkungan perkotaan dengan memanfaatkan lahan terbatas, seperti pekarangan rumah, balkon, rooftop, hingga dinding rumah menggunakan metode vertikal. Berbagai jenis tanaman seperti cabai, tomat, sawi, kangkung, bayam, hingga tanaman herbal menjadi pilihan utama karena mudah dirawat dan dapat dipanen dalam waktu relatif singkat.
Meningkatnya minat masyarakat terhadap urban farming tidak lepas dari kesadaran akan pentingnya mengonsumsi sayuran segar dan bebas pestisida. Selain itu, aktivitas berkebun juga dinilai mampu menjadi sarana relaksasi yang membantu mengurangi stres akibat rutinitas dan kesibukan di perkotaan.
Tak hanya memberikan manfaat bagi kesehatan, urban farming juga berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan. Keberadaan tanaman di sekitar rumah dapat membantu meningkatkan kualitas udara, mengurangi suhu panas di lingkungan sekitar, serta mendukung penyerapan air hujan. Di sisi lain, pemanfaatan sampah organik menjadi kompos juga menjadi bagian dari praktik pertanian perkotaan yang ramah lingkungan.
Sejumlah komunitas urban farming kini bermunculan di berbagai kota di Indonesia. Mereka aktif mengadakan pelatihan, berbagi pengalaman, hingga mengedukasi masyarakat mengenai teknik bercocok tanam yang sederhana dan efisien. Kehadiran komunitas tersebut membuat masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki pengalaman berkebun menjadi lebih percaya diri untuk memulai.
Perkembangan teknologi juga turut mendorong popularitas urban farming. Berbagai informasi mengenai teknik hidroponik, aquaponik, hingga penggunaan sistem irigasi otomatis kini mudah diakses melalui media sosial dan platform digital. Hal ini membuat siapa pun dapat belajar bercocok tanam secara mandiri tanpa harus memiliki latar belakang pertanian.
Di beberapa wilayah, hasil urban farming bahkan telah berkembang menjadi peluang usaha. Sayuran segar, bibit tanaman, pupuk organik, hingga perlengkapan hidroponik menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Tidak sedikit pelaku usaha rumahan yang memanfaatkan hasil panen untuk dijual kepada tetangga maupun melalui platform digital.
Meski demikian, urban farming masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan ruang, ketersediaan air saat musim kemarau, serta konsistensi dalam merawat tanaman. Namun, dengan pemilihan metode tanam yang tepat dan perawatan rutin, tantangan tersebut dapat diatasi.
Urban farming bukan sekadar tren sesaat, melainkan bagian dari upaya menciptakan kota yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan. Dengan memanfaatkan ruang yang tersedia, masyarakat tidak hanya memperoleh hasil panen untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup di tengah dinamika perkotaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....