29 September, Momentum Kurangi Susut dan Limbah Pangan

  • 29 Sep 2026 08:59 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Makanan yang diproduksi dengan susah payah tidak selalu berakhir di piring konsumen. Sebagian hilang di ladang atau tempat penyimpanan, sebagian lagi terbuang dari dapur rumah tangga. Padahal air, lahan, energi, tenaga kerja, dan modal sudah terpakai untuk menghasilkannya.

Kondisi ini mengganggu ketahanan dan ketersediaan pangan, serta ikut mendorong kenaikan harga makanan. Karena itu, Hari Kesadaran Internasional tentang Susut dan Limbah Pangan diperingati setiap 29 September. Momen ini mengajak semua pihak menyatukan upaya melawan pangan yang hilang dan terbuang.

Dilansir dari National Today, peringatan ini ditetapkan pada Desember 2019 melalui Sidang Majelis Umum PBB ke-74. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), yang berdiri sejak 1945 untuk mengakhiri kelaparan dunia, terlibat dalam penetapannya. Peringatan pertama digelar pada 2020, meski dunia sedang dilanda pandemi Covid-19.

Pada 2021, FAO dan Program Lingkungan PBB (UNEP) menyerukan aksi untuk memprioritaskan langkah dan inovasi dalam mengurangi susut dan limbah pangan. Seruan itu bertujuan membangun sistem pangan yang lebih tangguh.

Secara global, sekitar sepertiga makanan yang diproduksi untuk konsumsi manusia hilang atau terbuang setiap tahun, jumlahnya mencapai sekitar 1,3 miliar ton. Sekitar 14 persen pangan dunia hilang antara masa panen dan tingkat ritel. Sementara itu, sekitar 17 persen produksi pangan global terbuang, terdiri dari 11 persen di rumah tangga, 5 persen di jasa makanan, dan 2 persen di ritel.

Dampaknya juga menyentuh lingkungan. Susut dan limbah pangan menyumbang sekitar 8 persen emisi gas rumah kaca global. Menyelamatkan seperempat saja dari makanan yang hilang atau terbuang berpotensi memberi makan 870 juta orang yang hidup dalam kelaparan.

Susut pangan dan limbah pangan sebenarnya dua hal berbeda. Susut pangan merujuk pada makanan yang tumpah, rusak, atau hilang sebelum sampai ke konsumen, biasanya saat produksi, panen, penyimpanan, atau pengangkutan. Adapun limbah pangan terjadi di tingkat ritel dan konsumen, sering kali karena standar tampilan, pembelian berlebihan, atau penyimpanan yang keliru.

Masyarakat bisa memulai dari kebiasaan sehari-hari, misalnya berbelanja secukupnya dan tidak membeli dalam jumlah besar. Kentang, bawang putih, mentimun, tomat, dan bawang bombai sebaiknya tidak disimpan di kulkas agar tidak cepat rusak. Metode FIFO atau "first in, first out" juga dianjurkan saat menata isi kulkas.

Kulit wortel, apel, mangga, dan kentang dapat dimakan karena bergizi, sehingga tidak perlu selalu dibuang. Memilih metode pengawetan yang tepat untuk tiap jenis makanan juga membantu mengurangi pangan yang terbuang. Rumah tangga dapat melakukan audit limbah pangan untuk mengetahui makanan apa yang paling sering terbuang.

Di sektor usaha, restoran dapat menawarkan menu zero-waste, sementara toko bahan pangan dapat menyalurkan kelebihan stok ke bank makanan. Penyedia jasa makanan dapat melakukan audit limbah, dan bisnis dapat menggelar lokakarya pengomposan atau pengawetan makanan. Masyarakat juga dapat ikut menyebarkan kesadaran atau bergabung dalam kampanye pengurangan susut dan limbah pangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....