Gilang Cakti, Komika Bogor yang Mengolah Keresahan Jadi Tawa

  • 17 Sep 2026 21:35 WIB
  •  Bogor
Poin Utama
  • Dunia stand-up comedy di Kota Bogor terus menunjukkan perkembangan yang semakin menggembirakan
  • Di tengah perkembangan tersebut, muncul sejumlah komika Bogor yang namanya mulai dikenal lebih luas, salah satunya Gilang Cakti
  • Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Gilang adalah ketika mendapat kesempatan tampil dalam Jambore Standupindo

RRI.CO.ID, Bogor - Dunia stand-up comedy di Kota Bogor terus menunjukkan perkembangan yang semakin menggembirakan. Ruang bagi para komika untuk berlatih dan tampil semakin terbuka, dengan peserta open mic setiap minggunya bahkan dapat mencapai puluhan orang. Di tengah perkembangan tersebut, sejumlah komika asal Bogor mulai dikenal lebih luas, salah satunya Gilang Cakti.

Ditemui RRI pada Kamis, 17 September 2026, Gilang menceritakan bahwa perjalanannya menjadi komika berawal ketika masih duduk di kelas VII SMP. Saat itu, ia memiliki pacar satu kelas, tetapi keduanya jarang berbicara karena malu menjadi bahan godaan teman-teman. Kondisi tersebut membuat Gilang mencari cara agar lebih percaya diri dan mampu mencairkan suasana.

Ketertarikannya terhadap stand-up comedy muncul setelah menonton Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) 4. Ia kemudian mencari komunitas Standup Indo Bogor melalui Twitter hingga akhirnya bergabung sebagai anggota. Menariknya, setelah bergabung dengan komunitas tersebut, hubungan Gilang dengan pacarnya justru berakhir.

Bagi Gilang, stand-up comedy berkembang menjadi lebih dari sekadar cara mencairkan suasana. Ia merasa bahagia ketika mampu membuat orang lain tertawa melalui hal-hal yang ingin dibicarakan maupun keresahan pribadi yang dialaminya. Dari proses tersebut, ia belajar melihat pengalaman dari sudut pandang berbeda dan mengubah kesedihan atau tragedi menjadi materi komedi.

Sebagai komika yang tumbuh di Bogor, Gilang mengakui lingkungan kota tersebut turut memberikan warna terhadap materi komedinya. Budaya dan karakter bercanda masyarakat Sunda juga menjadi salah satu pengaruh dalam prosesnya menulis materi. Menurut Gilang, gaya bercanda Sunda yang cenderung usil dapat melahirkan sudut pandang tidak biasa yang membuat orang berpikir, "kok kepikiran."

Berbagai pengalaman sehari-hari di Bogor pernah ia bawa ke atas panggung, mulai dari naik angkot saat sekolah hingga fenomena anak-anak yang berebut layangan putus. Gilang juga mengangkat persoalan yang lebih serius, seperti sistem pemerintahan, tata kota, proses pembuatan SIM di Bogor, hingga kawasan tanpa rokok. Berbagai fenomena tersebut menjadi bahan untuk melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.

Dalam membangun karakter di atas panggung, Gilang mengaku tidak terlalu berusaha menentukan ciri khas dirinya sebagai komika. Ia memilih konsisten menunjukkan sudut pandang dan sikap terhadap berbagai fenomena yang ditemui di sekitarnya. Menurutnya, biarlah penonton yang menentukan sendiri seperti apa karakter komedinya.

Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Gilang adalah ketika mendapat kesempatan tampil dalam Jambore Standupindo. Ia menyebut panggung tersebut sebagai salah satu panggung yang dicita-citakan banyak komika di Indonesia, terlebih ketika penonton berdiri dan memberikan tepuk tangan setelah penampilannya. Meski materi yang dibawakan malam itu belum sepenuhnya selesai, respons penonton tetap menjadi pengalaman berkesan baginya.

Gilang melihat perkembangan stand-up comedy di Bogor sebagai peluang bagi komika baru, dengan peserta open mic yang dapat mencapai sekitar 30 orang setiap minggu dan penonton yang ramai. Ia juga merasakan pengaruh media sosial setelah beberapa video stand-up miliknya masuk FYP dan membuka peluang pekerjaan. Namun, Gilang mengingatkan komika baru agar merencanakan konten dengan baik, terutama jika materi mengandung kata-kata kasar yang dapat membuat calon klien berpikir ulang.

Ke depan, Gilang berharap stand-up comedy semakin diakui sebagai sebuah kesenian dan memiliki ruang yang lebih luas di masyarakat. Sebelum membawa nama Bogor ke tingkat yang lebih besar, ia berharap stand-up comedy terlebih dahulu menjadi salah satu pilihan hiburan masyarakat Bogor. Dengan dukungan penonton dan semakin terbukanya ruang tampil, para komika Bogor diharapkan dapat terus berkembang dan melangkah ke panggung yang lebih luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....