Beda Banget Sama Teater! ternyata Ini Alasan Monolog Lebih Susah
- 31 Agt 2026 10:54 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Seni peran monolog rupanya memiliki tingkat kesulitan tersendiri dibandingkan pertunjukan teater pada umumnya. Pengalaman menarik ini diungkapkan secara langsung oleh Juara 3 Monolog Peksimida Jawa Barat, Maulana Akbar Hendrawan. Acara tersebut berlangsung dalam siaran program Sore Ceria di Pro 2 FM RRI Bogor pada Rabu, 14 Januari 2026.
Akbar menjelaskan dasar istilah monolog yang secara etimologi berasal dari dua kata bahasa Yunani. Secara umum, bentuk seni peran ini hanya dimainkan oleh satu orang aktor di atas panggung.
"Monolog itu sebenarnya diambil dari kata mono dan logos, yang artinya sendiri, kemudian berbicara. Sederhananya ini salah satu seni peran yang hanya melibatkan satu pemain di atas panggung," kata Akbar.
Berbeda dari pertunjukan drama kelompok, aktor monolog dituntut membangun situasi dan atmosfer panggung secara mandiri. Tantangan inilah yang membuat monolog dinilai jauh lebih berat bagi seorang pemeran.
"Menurut saya lebih susah monolog, karena kita dialognya sendiri, kita membangun situasinya juga sendiri. Jadi memang kekuatan dari rasa si aktornya itu yang perlu lebih," ujar Akbar.
Seorang aktor monolog kerap dituntut memainkan dua hingga tiga karakter sekaligus secara bergantian di atas panggung. Oleh sebab itu, pemahaman yang mendalam terhadap isi cerita naskah menjadi kunci utama keberhasilan pertunjukan.
Dalam penilaian lomba monolog, ada banyak aspek penting yang dijadikan indikator penilaian oleh dewan juri. Kejelasan artikulasi vokal, gestur tubuh, kemasan pertunjukan, hingga penyampaian rasa sangat menentukan poin peserta.
Bagi siapapun yang baru berminat belajar monolog, langkah awal yang paling penting adalah mengenali diri sendiri terlebih dahulu. Proses ini membantu aktor membedakan karakter pribadinya sebelum mencoba memerankan tokoh lain.
"Mengenal diri itu bagaimana cara kita berpikir, bagaimana cara kita merasa. Karena di dasar-dasar keaktoran itu ada yang namanya tubuh, rasa, dan pikiran," tuturnya saat siaran.
Latihan intensif pada unsur pengolahan rasa dan pikiran akan membentuk kualitas akting yang terasa nyata bagi penonton. Dengan pondasi dasar yang kuat, pesan cerita dalam naskah pun dapat tersampaikan dengan maksimal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....