Teater Keliling Hidupkan Si Pitung di Era Digital
- 26 Agt 2026 09:22 WIB
- Bogor
Poin Utama
- Komitmen merawat seni pertunjukan di tengah perkembangan teknologi menjadi pembahasan dalam program Obrolan Komunitas Pro 2 FM RRI Bogor pada Rabu, 19 Agustus 2026
- Teater Keliling memiliki perjalanan panjang dalam perkembangan seni pertunjukan Indonesia
- Melalui Immortal The Musical: The Legendary Betawi “Si Pitung”, Teater Keliling menunjukkan bahwa merawat teater bukan berarti mempertahankan bentuk pertunjukan tanpa perubahan
RRI.CO.ID, Bogor - Komitmen merawat seni pertunjukan di tengah perkembangan teknologi menjadi pembahasan dalam program Obrolan Komunitas Pro 2 FM RRI Bogor pada Rabu, 19 Agustus 2026. Mengangkat tema “Merawat Dunia Teater di Era Digital”, perbincangan menghadirkan Ruslan dan Gadiza dari Teater Keliling. Dalam kesempatan tersebut, keduanya membahas perjalanan panjang Teater Keliling sekaligus karya terbaru mereka, Immortal The Musical: The Legendary Betawi “Si Pitung”, yang membawa legenda Betawi ke panggung dengan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi masa kini.
Teater Keliling memiliki perjalanan panjang dalam perkembangan seni pertunjukan Indonesia. Kelompok yang berdiri pada 13 Februari 1974 tersebut telah menjalani lebih dari lima dekade perjalanan berkesenian. Hingga kini, Teater Keliling telah melakukan sekitar 1.700 pementasan yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia serta 12 negara. Rekam jejak tersebut memperlihatkan konsistensi mereka dalam membawa seni pertunjukan dan cerita Indonesia kepada masyarakat luas. Sejarah Teater Keliling sendiri mencatat kelompok ini telah berkeliling dari Sabang sampai Merauke dan tampil di berbagai negara.
Dalam sesi talkshow, Ruslan menjelaskan bahwa perjalanan panjang Teater Keliling tidak hanya berbicara mengenai banyaknya pementasan, tetapi juga bagaimana teater dapat terus bertahan dan menjangkau penonton dari berbagai generasi. “Kami ingin teater tetap bisa dekat dengan masyarakat dan terus menemukan cara agar cerita yang dibawa bisa diterima generasi sekarang,” ujar Ruslan, merangkum gagasan yang disampaikannya dalam perbincangan. Upaya tersebut menjadi penting ketika perkembangan teknologi dan perubahan pola konsumsi hiburan membuat seni pertunjukan harus terus beradaptasi.
Semangat membawa cerita lama dengan pendekatan baru kemudian diwujudkan melalui Immortal The Musical: The Legendary Betawi “Si Pitung”. Pertunjukan tersebut digelar pada 22 dan 23 Agustus 2026 di Gedung Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Mengusung konsep Digital Immersive Theatre Musical, pementasan memadukan akting, musik, tari, silat, koreografi, serta visual digital dengan unsur tradisional. Perpaduan tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman berbeda sekaligus membuat kisah Si Pitung lebih mudah diterima oleh penonton masa kini.
Menurut Ruslan, pemilihan tokoh Si Pitung juga menjadi bagian dari upaya Teater Keliling memperkenalkan kembali cerita dan karakter lokal kepada anak muda. “Si Pitung bukan hanya cerita masa lalu, tetapi ada nilai perjuangan yang masih bisa dibicarakan dan dirasakan oleh generasi sekarang,” kata Ruslan, sebagaimana pokok pembahasan yang disampaikan dalam talkshow. Melalui kemasan musikal dan teknologi panggung, cerita tentang tokoh legendaris Betawi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kisah sejarah, tetapi dapat menjadi pengalaman seni yang relevan bagi penonton.
Hal senada disampaikan Gadiza yang melihat perkembangan teknologi sebagai peluang untuk memperluas cara teater berkomunikasi dengan penonton. “Teknologi bukan berarti menghilangkan teater tradisional, tetapi bisa menjadi bagian dari cara kita mengemas cerita supaya lebih menarik,” ujar Gadiza dalam merangkum pandangannya pada perbincangan tersebut. Pendekatan itu terlihat dalam Immortal The Musical yang menggabungkan kekuatan seni pertunjukan secara langsung dengan elemen visual dan teknologi digital.
Melalui Immortal The Musical: The Legendary Betawi “Si Pitung”, Teater Keliling menunjukkan bahwa merawat teater bukan berarti mempertahankan bentuk pertunjukan tanpa perubahan. Setelah lebih dari lima dekade dan sekitar 1.700 pementasan, mereka terus mencari pendekatan baru agar panggung tetap hidup dan cerita Indonesia tetap memiliki ruang di tengah perkembangan zaman. Kehadiran Si Pitung di panggung Taman Ismail Marzuki pun menjadi salah satu upaya untuk mempertemukan warisan budaya Betawi dengan energi kreatif dan teknologi yang dekat dengan generasi masa kini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....