Dari Gubuk Reot menuju Harapan, Kisah Keluarga Karsa Menanti Rumah Layak
- 07 Agt 2026 19:16 WIB
- Bogor
Poin Utama
- Rumah kami dulu sangat kumuh dan kotor karena masih terbuat dari bambu dan bilik, atapnya juga tidak layak. Kalau hujan bocor di mana-mana sampai kami harus tidur di teras sambil menahan dingin,
- Perubahan rumah sederhana itu bukan sekadar pergantian dinding bambu menjadi tembok atau atap bocor menjadi bangunan yang kokoh.
RRI.CO.ID, Bogor – Deretan pabrik yang menjulang di Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, menyimpan kisah lain yang nyaris luput dari perhatian. Di RT 03 RW 03, Desa Bantarjati, sebuah rumah bambu yang rapuh pernah menjadi tempat berteduh belasan anggota keluarga dalam ruang seluas tak lebih dari 90 meter persegi, Kamis, 7 Agustus 2026.
Bangunan itu lebih menyerupai gubuk dibanding sebuah rumah tinggal. Dinding bilik bambu yang mulai lapuk, lantai seadanya, dan atap yang tak lagi mampu menahan hujan menjadi bagian dari keseharian keluarga Karsa yang bertahun-tahun bertahan dalam keterbatasan. Karsa masih mengingat bagaimana setiap musim hujan menjadi masa yang paling berat bagi keluarganya.
“Rumah kami dulu sangat kumuh dan kotor karena masih terbuat dari bambu dan bilik, atapnya juga tidak layak. Kalau hujan bocor di mana-mana sampai kami harus tidur di teras sambil menahan dingin, akhirnya sering kena influenza. Kalau kemarau debunya masuk ke rumah karena daerah sini juga kawasan industri," tutur Karsa.
Kesulitan itu tidak hanya dirasakan Karsa, tetapi juga istrinya, Icih, yang harus mengurus keluarga besar dalam ruang yang sempit. Tidak ada ruang pribadi, tidak ada tempat beristirahat yang benar-benar nyaman, bahkan dapur dan ruang tamu menjadi tempat tidur bagi sebagian anggota keluarga.
"Dulu kami tidur berdesak-desakan dengan tiga sampai empat anak dan anggota keluarga lain dalam satu kamar. Yang lainnya tidur di depan rumah atau ruang tamu yang menyatu dengan dapur. Kami sering sakit, tetapi sekarang Alhamdulillah setelah ada perhatian dari Indocement rumah kami diperbaiki sehingga kami bisa hidup lebih layak," ujar Icih.
Perubahan rumah sederhana itu bukan sekadar pergantian dinding bambu menjadi tembok atau atap bocor menjadi bangunan yang kokoh. Perbaikan tersebut menghadirkan harapan baru bahwa rumah yang layak mampu menghadirkan kesehatan, kenyamanan, sekaligus menjaga martabat sebuah keluarga.

Ketua RT 03, Iwan, mengatakan masih banyak warga di lingkungannya yang menghadapi kondisi serupa dan membutuhkan perhatian bersama. Sebagai aparat yang paling dekat dengan masyarakat, ia berharap semakin banyak pihak yang terlibat membantu warga kurang mampu.
"Saat ini memang masih banyak warga yang membutuhkan perhatian. Sebagai RT yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, kami berharap semakin banyak pihak yang membantu sehingga kami bisa memfasilitasi berbagai kebutuhan warga," kata Iwan.
Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam HUT ke 51 yang secara bertahap memperbaiki rumah-rumah tidak layak huni di wilayah sekitar perusahaan. Program tersebut menyasar warga di Kecamatan Citeureup dan Klapanunggal sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, Antonius Marcos, mengatakan perusahaan terus memfokuskan program sosial pada sektor perumahan karena rumah yang layak menjadi fondasi bagi kesehatan dan kesejahteraan keluarga.
"Tahun ini sudah ada ratusan rumah yang kami bantu, dan saat ini sekitar 50 rumah masih dalam proses perbaikan di wilayah Citeureup dan Klapanunggal. Program TJSL ini kami jalankan agar masyarakat memiliki rumah yang lebih representatif, karena saat kita tinggal di rumah yang layak, masih ada saudara-saudara kita yang hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan," ujarnya.
Kepala Desa Bantarjati, Sumpena Jayaatmaja, menegaskan pemerintah desa terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bogor untuk memperluas penanganan rumah tidak layak huni.
"Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar masyarakat dapat hidup lebih layak, sekaligus mendorong program TJSL terus berkembang sehingga memberikan kontribusi nyata bagi warga," katanya.
Di balik dinding rumah yang kini berdiri lebih kokoh, tersimpan cerita tentang perjuangan, kepedulian, dan gotong royong yang mengubah kehidupan sebuah keluarga. Kisah keluarga Karsa menjadi pengingat bahwa rumah bukan sekadar tempat berteduh, melainkan ruang yang menentukan kualitas hidup, kesehatan, dan masa depan, serta membuktikan bahwa kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat mampu menghadirkan harapan bagi mereka yang selama ini hidup dalam keterbatasan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....