Menjaga Nyawa Budaya dari Bilah Golok Warisan Leluhur
- 06 Jun 2026 08:37 WIB
- Bogor
Poin Utama
- Benda-benda pusaka tersebut bukan sekadar alat, tetapi menjadi simbol perjalanan panjang peradaban dan identitas budaya masyarakat Nusantara.
- Melalui kolaborasi antara seniman, budayawan, pemerintah, dan masyarakat, semangat melestarikan budaya serta kesenian Sunda diharapkan terus tumbuh dan menjadi warisan berharga bagi generasi Indonesia masa depan.
RRI.CO.ID, Bogor – Deretan golok, pedang, dan parang tersusun rapi di kawasan Pasar Gembrong saat pagelaran budaya yang yang berlangsung pada Jumat, 5 Juni 2026. Benda-benda pusaka tersebut bukan sekadar alat, tetapi menjadi simbol perjalanan panjang peradaban dan identitas budaya masyarakat Nusantara terlebih dalam momentum hari jadi Bogor ke 544.
Kegiatan yang menghadirkan para seniman, budayawan, kolektor, dan pecinta pusaka itu diharapkan menjadi ruang edukasi bagi generasi muda. Melalui pagelaran tersebut, masyarakat diajak memahami nilai sejarah, filosofi, dan kearifan lokal yang terkandung dalam setiap karya budaya warisan leluhur.
Seniman golok, Banon, mengatakan pelestarian budaya harus terus dilakukan agar warisan para pendahulu tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Menurutnya, golok dan berbagai pusaka tradisional merupakan bagian penting dari identitas bangsa yang wajib dikenalkan kepada generasi penerus.
“Pelestarian budaya sangat penting dilakukan agar generasi muda memahami sejarah dan nilai luhur yang terkandung dalam setiap karya pusaka yang diwariskan para leluhur,” ujar Banon.
Seniman Landi Mahendra menilai upaya menjaga budaya saat ini tidak hanya dilakukan melalui pelestarian benda-benda bersejarah. Ia mengatakan berbagai tradisi, pengetahuan, nilai, dan praktik budaya nonbenda juga harus diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa.
“Sekarang banyak pelestarian budaya benda dan non benda yang harus dikenalkan kepada generasi muda agar mereka memahami akar budayanya sendiri,” kata Landi Mahendra.
Sementara itu, seniman Anton Rahayu mengingatkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menyangkut benda pusaka, tetapi juga pemikiran dan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat. Menurutnya, gagasan kaum intelektual harus tetap dijaga dan dirawat agar mampu merangkul seluruh kalangan dalam membangun bangsa serta tidak mudah diambil atau diklaim oleh pihak lain.
“Pemikiran dari kaum intelektual juga harus lestari karena saat ini kita harus bisa merangkul semua kalangan untuk membangun. Jangan sampai warisan pemikiran dan budaya kita justru diambil oleh pihak lainnya,” ungkap Anton Rahayu.
Hal senada disampaikan Hari Patih yang menyebut Indonesia memiliki banyak warisan budaya yang layak dijaga. Ia menjelaskan bahwa pusaka tidak hanya berupa senjata tradisional, tetapi juga mencakup alat bercocok tanam, perlengkapan pertahanan, hingga berbagai alat musik tradisional yang mencerminkan kekayaan budaya bangsa.
Ia menambahkan bahwa pelestarian budaya memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.
“Generasi muda harus paham dan mengerti apa yang menjadi tanggung jawab mereka dalam mempertahankan jati diri bangsa Indonesia melalui budaya yang diwariskan para leluhur,” ujarnya.
Penggiat program Golok to UNESCO, Gatut Susanta, menilai kegiatan seperti ini menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke tingkat internasional. Menurutnya, semakin banyak ruang apresiasi dan pelestarian budaya yang dibangun, semakin besar peluang warisan budaya Nusantara mendapatkan pengakuan dunia.
Pagelaran golok, pedang, dan parang di Pasar Gembrong bukan hanya menjadi ajang pameran budaya, melainkan juga pengingat bahwa identitas bangsa harus terus dijaga bersama. Melalui kolaborasi antara seniman, budayawan, pemerintah, dan masyarakat, semangat melestarikan budaya serta kesenian Sunda diharapkan terus tumbuh dan menjadi warisan berharga bagi generasi Indonesia masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....