Ekosistem Tergerus, Budaya Terkikis: Dampak Ikan Sapu-Sapu dan Sampah Manusia

  • 02 Mei 2026 11:04 WIB
  •  Bogor
Poin Utama
  • Di permukaan air yang keruh, seekor ikan berkulit baja tampak menempel di batuan. Warga mengenalnya sebagai ikan sapu-sapu spesies yang dulu dielu-elukan sebagai “pembersih alami”.
  • Ikan sapu-sapu bukan lagi sekadar makhluk air. Ia adalah penanda zaman—tentang sungai yang kehilangan keseimbangan, tentang manusia yang belum sepenuhnya belajar.

RRI.CO.ID, Bogor - Sungai Ciliwung bukan sekadar aliran air yang membelah Kota Bogor. Ia adalah cermin panjang tentang bagaimana manusia memperlakukan alam dan bagaimana alam, perlahan tapi pasti, menjawabnya.

Di permukaan air yang keruh, seekor ikan berkulit baja tampak menempel di batuan. Warga mengenalnya sebagai ikan sapu-sapu spesies yang dulu dielu-elukan sebagai “pembersih alami”. Namun kini, kehadirannya lebih menyerupai alarm sunyi. Ia tidak datang membawa solusi, melainkan menandai sesuatu yang telah lama rusak.

Di titik-titik seperti Kedung Badak, Kedung Halang, hingga sekitar Jembatan Yapis Tanah Sareal, kemunculannya kian lazim. Tubuh gelap dengan mulut penghisap itu seperti simbol adaptasi ekstrem: hidup subur di tengah air yang kian tercemar.

Aktivis Lingkungan yang juga River Defender, Suparno Jumar, melihat fenomena ini dengan nada hati-hati. Populasinya, kata dia, memang belum sepenuhnya mendominasi. Namun ancaman yang lebih besar justru berasal dari kebiasaan manusia yang tak kunjung berubah.

“Kalau limbah domestik terus mengalir ke sungai, itu akan menjadi sumber makanan bagi ikan sapu-sapu. Di situlah mereka bisa berkembang lebih cepat dan mengancam ekosistem,” ujarnya, Sabtu, 2 Mei 2026.

Di balik kemampuannya bertahan hidup, ikan ini menyimpan ironi. Ia disebut “pembersih”, padahal yang ia bersihkan adalah sisa-sisa kerusakan yang diciptakan manusia sendiri. Semakin kotor sungai, semakin besar peluangnya berkembang. Sebuah paradoks ekologis yang jarang disadari. Fenomena ini bukan sekadar soal jumlah, melainkan tentang pergeseran rantai kehidupan. Ikan-ikan lokal yang dahulu mendominasi perlahan tersingkir, kalah bersaing dengan spesies asing yang lebih tahan terhadap kondisi ekstrem.

Suparno menegaskan, tanpa upaya serius memulihkan kualitas air, keseimbangan ekologis akan makin sulit dicapai. Sungai sehat, baginya, bukan hanya tentang aliran, tetapi tentang harmoni kehidupan di dalamnya. Dalam ekosistem yang terganggu, selalu ada yang bertahan dan ada yang menghilang. Ikan sapu-sapu adalah yang bertahan—bukan karena kuat semata, tetapi karena lingkungan telah berubah sesuai dengan kebutuhannya. Sementara yang lain, yang lebih sensitif, perlahan lenyap tanpa suara, namun persoalan tidak berhenti di dalam air. Ia bahkan bisa menembus ke tubuh manusia.

Menanggapi fenomena ikan sapu-sapu, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Bogor, Jeffeta Pradeko Putra, mengingatkan bahwa ikan sapu-sapu dari perairan tercemar berpotensi membawa zat berbahaya. Logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium bisa terakumulasi di dalam tubuh ikan tersebut.

“Ikan sapu-sapu yang hidup di perairan dengan limbah berat berpotensi mengandung logam berbahaya bagi kesehatan,” jelasnya.

Risiko itu menjadi lebih kompleks ketika ikan ini masuk ke rantai konsumsi. Dalam kondisi ekonomi tertentu, apa pun yang bisa dimakan kerap dianggap layak. Namun di balik daging yang tampak biasa, tersimpan ancaman tak kasat mata yang bisa berdampak jangka panjang.

Pemerintah Kota Bogor mulai memberikan perhatian serius. Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim menyebut fenomena ini perlu dikaji lebih dalam sebelum menentukan langkah penanganan yang tepat. Pihaknya akan melihat apakah ini memerlukan intervensi khusus atau berkaitan langsung dengan kualitas lingkungan. Yang jelas, ekosistem sungai harus tetap dijaga.

"Penanganan ikan sapu-sapu tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus menjadi bagian dari upaya yang lebih besar memperbaiki kualitas air, mengendalikan limbah, dan mengubah perilaku masyarakat. Tanpa itu, setiap intervensi hanya akan menjadi solusi sementara," tandasnya.

Pada akhirnya, suara masyarakat menjadi penutup dari kegelisahan yang mengalir bersama arus sungai. Salah satunya Asep, warga Tanah Sareal yang mengungkapkan saat ini air sungai mulai terasa keruh, terlebih dengan semakin banyaknya ikan sapu-sapu.

“Dulu airnya masih bisa dipakai mandi, sekarang baunya menyengat. Ikan sapu-sapu malah makin banyak,” kata Asep, warga Tanah Sareal.

Ikan sapu-sapu bukan lagi sekadar makhluk air. Ia adalah penanda zaman—tentang sungai yang kehilangan keseimbangan, tentang manusia yang belum sepenuhnya belajar. Dan di aliran Sungai Ciliwung, kisah itu terus mengalir, menunggu apakah kita akan mengubah akhirnya—atau membiarkannya menjadi peringatan yang terlambat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....