Bogor Nyalakan Asa Indonesia Emas
- 22 Feb 2026 12:00 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor — Senja Ramadan turun perlahan di Kota Bogor, menyelimuti langit dengan semburat jingga yang teduh, ketika langkah-langkah para cendekiawan muslim berbaur dalam satu ruang perjumpaan makna. Di antara lantunan ayat suci dan diskusi hangat tentang masa depan bangsa, tumbuh kesadaran bahwa membangun Indonesia bukan hanya perkara strategi, melainkan perjalanan jiwa.
Momentum yang digagas oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah Kota Bogor itu menjelma ruang tafakur kolektif sepanjang Februari. Bukan kemeriahan yang ditonjolkan, melainkan ikhtiar membentuk manusia unggul yang berpijak pada iman, ilmu, dan integritas.
Ramadan menjadi cermin untuk membaca ulang arah generasi muda, di tengah riuh digitalisasi dan derasnya arus globalisasi. Di ruang-ruang dialog itu, para peserta tidak sekadar mendengar ceramah, tetapi menyelami makna kepemimpinan sebagai amanah dan pengabdian.
Ketua ICMI Orda Kota Bogor, Arief Badrudin, berdiri dengan suara yang tenang namun tegas, mengingatkan pentingnya estafet perjuangan.
“Saat ini penting untuk bisa menciptakan generasi islami cendekiawan muslim agar terus melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan dan berbagai keperluan untuk bisa melompat lebih tinggi menuju Indonesia Emas,” ujarnya, Minggu, 22 Februari 2026.
Kata-kata itu tak berhenti sebagai slogan, melainkan menjelma doa yang menggema dalam dada setiap peserta. Ramadan menghadirkan kesadaran bahwa kepemimpinan sejati lahir dari ketundukan kepada Tuhan dan keberanian memikul tanggung jawab sosial.
Di sudut lain, Ketua Ordasus ICMI Bogor, Prof Sofyansyah berbicara tentang zaman yang berubah cepat, tentang dunia yang kini digerakkan oleh data dan kecerdasan artifisial.
“Upaya meneruskan tongkat estafet harus disertai pembekalan keilmuan, keterampilan UMKM, dan literasi digital sehingga generasi muda cendekiawan dapat belajar mengembangkan diri dengan artificial intelligence untuk kepentingan Indonesia,” tuturnya, menekankan bahwa teknologi adalah alat, bukan tujuan.
Bagi Dina Hardiyana, seorang pelaku UMKM, perjumpaan itu menjadi titik balik keyakinan diri. “Dalam kegiatan ini saya merasa bisa mengembangkan diri sekaligus memperkenalkan produk UMKM kepada masyarakat,” katanya, matanya berbinar menyimpan harap bahwa usaha kecil pun dapat menjadi bagian dari gerakan besar kebangkitan umat.
Salah seorang pelaku UMKM lainnya, Ida Priatna, menambahkan, dimensi lain dari perjuangan itu, yakni kesadaran akan pentingnya produk halal sebagai bagian dari tanggung jawab moral.
“Saat ini penting untuk mengembangkan produk halal agar cendekiawan muda muslim Indonesia lebih mengenal dan menggunakan produk halal demi memastikan higienis, keamanan, dan kenyamanan bagi masyarakat,” ucapnya, mengajak generasi muda menjadikan pilihan konsumsi sebagai bentuk nilai.
Sekretaris Daerah Kota Bogor, Denny Mulyadi, berharap rangkaian ikhtiar tersebut menjadi jalan kemaslahatan bagi umat dan penguat ekonomi daerah. Ia percaya generasi muda yang ditempa secara spiritual dan intelektual akan mampu membuka lapangan pekerjaan, menyalakan harapan baru bagi Kota Bogor dan Indonesia.
Ketika malam semakin larut dan cahaya lampu memantul di wajah-wajah penuh semangat, Ramadan seakan berbisik bahwa perubahan besar selalu bermula dari hati yang tercerahkan. Dari Kota Bogor, jejak langkah itu mengajarkan satu hal: Indonesia Emas bukan sekadar cita-cita 2045, melainkan janji yang sedang ditulis hari ini oleh generasi muda yang berani bermimpi dan bersujud dalam satu tarikan napas perjuangan.