Warga Aceh Tamiang Berterima Kasih pada Bogor
- 18 Des 2025 22:10 WIB
- Bogor
KBRN, Bogor: Masyarakat Aceh Tamiang menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah Kota Bogor atas kehadiran dan kepedulian yang mereka rasakan langsung di tengah situasi sulit pascabencana. Ungkapan syukur itu mengalir tulus dari warga Desa Lintang Bawah, Kecamatan Kuala Simpang, saat Tim Relawan Peduli Bencana Pemkot Bogor berpamitan meninggalkan lokasi pengungsian, Rabu (17/12/2025).
David (26), salah satu warga setempat, tak kuasa menyembunyikan harunya. Selama hampir dua pekan, desanya dilanda keterbatasan akibat padamnya listrik dan sulitnya akses air bersih. Kehadiran relawan dari Kota Bogor menjadi secercah harapan di tengah kondisi yang serba terbatas.
“Kami sudah lama tidak ada listrik dan air bersih susah. Alhamdulillah, bantuan dari warga Kota Bogor sangat membantu kami,” tuturnya.
Selama tiga hari berada di lokasi, tim relawan memilih tinggal bersama warga di posko pengungsian. Kebersamaan itu perlahan menghapus jarak, menggantinya dengan rasa kekeluargaan. Saat hari kepulangan tiba, suasana pengungsian terasa berbeda.
“Kalau tim dari Kota Bogor sudah pulang, rasanya jadi sepi,” kata David, menggambarkan perasaan banyak warga yang merasa kehilangan.
Kehadiran relawan juga membawa keceriaan bagi anak-anak desa. Di sela lumpur dan rumah yang rusak, mereka diajak menggambar, mewarnai, bermain, dan menerima hadiah sederhana. Aktivitas itu menjadi penghibur di tengah trauma bencana yang masih membekas.
“Yang mereka lihat setiap hari cuma lumpur dan rumah rusak. Dengan adanya relawan, anak-anak bisa tertawa lagi,” ungkap David.
Tokoh masyarakat setempat, Dzul (56), turut merasakan sentuhan kemanusiaan dari tim relawan. Meski dalam kondisi kurang sehat, ia mengaku mendapat perhatian dan pendampingan. Baginya, kehadiran relawan bukan sekadar membawa bantuan logistik, tetapi juga menghadirkan kehangatan.
“Kami benar-benar terharu. Mereka mau menginap di sini, makan dan memasak bersama warga. Rasanya seperti keluarga sendiri,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Dzul berharap ikatan emosional yang terjalin tidak berhenti sampai di situ. Ia ingin silaturahmi antara warga Aceh Tamiang dan Kota Bogor tetap terjaga.
“Kami berharap bisa bertemu lagi. Kami sudah menganggap semua relawan sebagai saudara,” katanya lirih.
Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, menyampaikan bahwa kehadiran relawan memang ditujukan untuk memberikan lebih dari sekadar bantuan materi. Dukungan moril dan empati menjadi bagian penting dari misi kemanusiaan tersebut.
“Kami mohon maaf jika selama di sini ada hal yang kurang berkenan. Apa yang kami bawa mungkin tidak banyak, tetapi semoga bisa meringankan beban saudara-saudara kami di Aceh Tamiang,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan dan duka bencana, kisah kebersamaan ini menjadi pengingat bahwa solidaritas antardaerah mampu menghadirkan harapan. Bagi warga Aceh Tamiang, Kota Bogor bukan sekadar nama di peta, melainkan sahabat yang hadir di saat paling dibutuhkan.