Alkulturasi Seni Kontemporer Kesundaan Untuk Gen z

  • 19 Apr 2025 17:28 WIB
  •  Bogor

KBRN, Bogor : Keindahan dan keagungan seni tradisional kesundaan sudah terkenal di seluruh Indonesia bahkan dunia internasional. Banyak karya seni budaya Sunda seperti di Bogor Cianjur yang menjadi barometer perkembangan kesenian di Indonesia yang sudah melanglang buana hingga ke belahan dunia. Salah satu sanggar di Bogor Andika yang maju berkembang mengadaptasi alkulturasi seni budaya kontemporer dengan kesundaan.

Pimpinan Sanggar Andika, Anita Winduwulan mengungkapkan saat ini pola pembinaan kesenian kesundaan harus terus mengikuti perkembangan zaman. Derasnya arus digitalisasi dan modernisasi menuntut sikap mental mencintai budaya leluhur sekaligus beradaptasi dengan budaya kontemporer sehingga menghasilkan kesenian yang tidak lekang dimakan zaman.

"Pembinaan kepada generasi muda khususnya saat ini gen z juga harus berkelanjutan dengan adanya pendekatan secara prinsip pelestarian budaya untuk melanjutkan kesenian leluhur Tatar Pasundan," ungkapnya, Sabtu (19/4/2025).

Salah seorang pelaku seni budaya juru mamaos tembang Sunda Cianjuran, Rina Suminar mengaku saat ini memang harus ada upaya pelestarian budaya agar tidak punah termakan zaman.

Generasi ke generasi menurunkan sikap moral kearifan lokal tak terpasundan yang tidak boleh tergerus perkembangan zaman. Nilai-nilai seni budaya tetap menjadi acuan dalam berkegiatan meskipun adaptasi dengan kesenian kontemporer juga berlangsung. Dalam seni mamaos cianjuran atau bernyanyi khas Sunda bisa menggabungkan sejumlah alat musik tradisional seperti kecapi suling gendang dan degung bersama gitar drum ataupun.

"Cita rasa seni kesundaan dari hasil olah vokal secara bertahun-tahun akan tetap menjadi ciri khas mamaos cianjuran yang mempunyai pangsa pasar tersendiri," jelasnya.

Pelestarian seni kesundaan terutama mamaos cianjuran sudah harus tertularkan dan menciptakan bibit baru generasi muda yang melakukan berbagai upaya belajar dan mencintai kesenian kesundaan.

"Cara pembelajaran saat ini juga tidak bisa seperti pola pembinaan terdahulu namun lebih mengenalkan apa yang menjadi contoh perilaku kehidupan kesundaan sehingga generasi muda mau mengikuti dan belajar secara mendalam," paparnya.

Sedangkan menurut kang Dede Nuriman Penggiat seni yg juga merupakan ketua Satria Sunda Sakti kota bogor menjelaskan kesenian kesundaan sudah beradaptasi sejak lama dengan berbagai etnis yang ada di wilayah Tatar Pasundan.

Seni kesundaan akan tetap mengakar sebagai jati diri rakyat Sunda yang tinggal hidup di daerah pegunungan dan sungai yang mengalir sebagai unggulan alam yang menjadi anugerah Tuhan yang maha esa.

"Dari alam belajar mencintai wilayah yang subur gemah ripah loh jinawi sehingga sikap mental mencintai budaya kesundaan tetap ada sebagai jati diri masyarakat Tatar Pasundan," tandasnya.

Sementara itu salah seorang generasi muda yang Murid sanggar Andhika, Ratu Bilqis Salsabila mengungkapkan sudah mencintai budaya kesundaan sejak kecil. Dengan diperkenalkannya budaya kearifan lokal di Tatar Pasundan maka bisa lebih mendalami akar kehidupan di wilayah Jawa Barat.

"Dalam belajar seni kesundaan juga mempunyai tantangan sehingga dengan belajar yang giat dan terus menggali kemampuan dalam berkesenian bisa menciptakan bibit unggul dalam menempuh pembelajaran dengan gigih dan tekun," katanya.

Berbagai pencapaian sanggar Andika juga sudah terkemuka melanglang buana ke berbagai belahan dunia mementaskan budaya kesundaan seperti di Taiwan dan negara lainnya.

Budaya Sunda dengan berbagai kearifan lokal di dalamnya tentu menjadi Hasanah Nusantara menambah indahnya Indonesia dengan berbagai etnis budaya dan kesenian berbaur menjadi bingkai mutumanikam bagaikan mutiara yang terus bersinar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....