Inovasi dan Higienitas Kunci UMKM Raup Cuan
- 26 Feb 2026 14:42 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Ramadan selalu datang dengan denyut ekonomi yang berbeda di sudut-sudut Kota Bogor. Dari lorong perumahan hingga tepi jalan protokol, aroma kolak, gorengan, dan aneka minuman segar menjadi penanda bahwa peluang usaha tengah terbuka lebar bagi pelaku UMKM.
Fenomena “perang takjil” yang ramai di media sosial menunjukkan tingginya minat beli masyarakat menjelang berbuka puasa. Momentum ini bukan hanya soal tradisi, tetapi juga tentang perputaran uang yang meningkat signifikan dalam waktu relatif singkat hingga Lebaran.
Kepala Unit Kewirausahaan dan UMKM Institut Bisnis dan Informatika Kesatuan, Mashadi Yahmin, menilai Ramadan sebagai fase strategis bagi kebangkitan usaha kecil.
“Saat ini penting agar UMKM memiliki strategi yang tepat untuk bangkit dan maju selama Ramadan, karena peluang meraih kesejahteraan dan cuan terbuka sangat luas,” ujarnya, Kamis, 26 Februari 2026.
Menurutnya, pelaku usaha perlu jeli membaca tren pasar, termasuk perubahan pola konsumsi masyarakat yang cenderung impulsif namun sensitif terhadap kualitas. Inovasi produk, promosi digital, serta pelayanan cepat menjadi kunci agar pembeli tidak beralih ke kompetitor di sebelah lapak.
Sementara itu, Guru Besar Akuntansi Syariah Universitas Tazkia, Prof. Dr. Murniati Mukhlisin, dalam wawancara bersama penyiar RRI Bogor Dellis Noor, menekankan pentingnya keberlanjutan usaha.
“Tantangan terbesar UMKM bukan hanya momentum Ramadan, tetapi bagaimana mereka bertahan setelahnya, terutama dari sisi permodalan dan pengelolaan keuangan yang tidak tercampur dengan kebutuhan pribadi,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa sistem akuntansi sederhana namun disiplin akan membantu pelaku usaha melihat keuntungan riil. Dengan pencatatan yang rapi, UMKM dapat menekan risiko kerugian dan memperkuat fondasi bisnis menuju skala yang lebih besar.
Direktur Breto Institute, Adi Sumarna, menilai Ramadan bukan ancaman melainkan peluang besar. Ia menegaskan persoalan utama terletak pada kurangnya diferensiasi produk dan strategi skala usaha.
“Peningkatan permintaan pasar selama Ramadan itu jelas ada, jadi ini bukan ancaman bagi UMKM. Ramadan itu momentum singkat, jadi bukan soal untung besar harian, tetapi memaksimalkan volume penjualan, mempercepat perputaran kas, fokus pada menu andalan, kemasan menarik, serta strategi bundling agar tidak terjebak perang harga,” tambahnya.
Di sisi lain, aspek keamanan pangan juga menjadi perhatian serius. Ketua Tim Informasi dan Komunikasi Balai Pengawas Obat dan Makanan di Bogor, Eva Nikastri, mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap bahan takjil yang tidak layak konsumsi serta memastikan standar pengolahan terpenuhi. Pada akhirnyabRamadan dan Idulfitri seharusnya menjadi ujian bagi UMKM, antara dapat memanfaatkan peluang sesaat atau membangun pondasi usaha berkelanjutan.