Kisah Sari Rosmawati, dari Guru ke Pengusaha Laundry
- 09 Feb 2026 17:38 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Bisnis laundry atau penatu dinilai masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selama kebutuhan sandang terus ada, jasa pencucian pakaian tetap dibutuhkan masyarakat dari berbagai kalangan.
Hal tersebut disampaikan pelaku UMKM laundry asal Bogor, Sari Rosmawati, saat hadir dalam Beranda Asta Cita Pro 1 RRI Bogor pada Senin. Ia membagikan pengalaman membangun usaha laundry sejak 2014, berawal dari skala rumahan hingga berkembang menjadi beberapa unit bisnis.
Sari mengungkapkan, latar belakangnya sebagai guru tidak menghalanginya untuk beralih ke dunia usaha. Ia memulai bisnis laundry dari rumah kontrakan dengan satu mesin cuci dua tabung dan pelanggan awal para santri.
“Waktu itu saya ngontrak rumah kecil, nyuci masih manual, dijemur di depan rumah. Pelanggan pertama saya itu santri,” ujarnya.
Seiring waktu, usaha tersebut berkembang menjadi layanan laundry full service dengan berbagai jenis layanan, mulai dari kiloan hingga pencucian khusus. Selain itu, Sari juga mengembangkan konsep laundry self-service yang beroperasi 24 jam dan kini telah memiliki lima cabang di Kota Bogor.
Tidak hanya berorientasi pada keuntungan, Sari juga menginisiasi program edukasi laundry pesantren. Melalui program tersebut, ia bersama suami mendampingi ratusan pesantren di berbagai daerah sekaligus mengedukasi santri tentang cara mencuci yang bersih dan higienis.
Menurut Sari, kesalahan yang sering dilakukan pemula adalah terburu-buru membeli mesin tanpa bekal pengetahuan.
“Kalau mau bisnis laundry, jangan beli mesinnya dulu. Cari tempat edukasi dan pelatihannya dulu, supaya tahu cara mengelola dan mengoperasikannya,” katanya.
Dalam pengelolaan usaha, ia menekankan pentingnya sistem operasional dan standar pelayanan untuk meminimalkan keluhan pelanggan. Penerapan prosedur kerja yang jelas dinilai mampu menjaga kepercayaan konsumen dalam jangka panjang.
Menutup perbincangan, Sari berpesan agar calon pelaku UMKM memulai usaha dengan niat memberi manfaat, kejujuran, dan tanggung jawab. Ia menegaskan peluang usaha bisa datang dari hal sederhana, termasuk dari pakaian kotor, asalkan dikelola dengan tekun dan pelayanan yang tulus.