Panduan Nasional Dorong Budidaya Padi Berkelanjutan Indonesia Maju

  • 21 Jun 2026 15:40 WIB
  •  Bogor
Poin Utama
  • Sektor perberasan Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar
  • Indonesia diharapkan mampu membangun sistem produksi padi yang lebih produktif, berdaya saing, sekaligus berkontribusi pada upaya mitigasi perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan
  • Upaya mewujudkan sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan terus diperkuat melalui penyusunan National Interpretation Guideline (NIG) Sustainable Rice Platform (SRP)

RRI.CO.ID, Bogor- Upaya mewujudkan sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan terus diperkuat melalui penyusunan National Interpretation Guideline (NIG) Sustainable Rice Platform (SRP). Kegiatan yang digelar di Jakarta pada Kamis, 18 Juni 2026 lalu mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, akademisi, lembaga sertifikasi, sektor swasta, hingga organisasi masyarakat sipil. Forum tersebut menjadi ruang bersama untuk menyusun pedoman nasional yang mampu menerjemahkan standar internasional SRP sesuai dengan kondisi Indonesia.

Sektor perberasan Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar. Di satu sisi, produksi padi harus terus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang terus bertambah. Di sisi lain, praktik budidaya konvensional masih menimbulkan berbagai dampak lingkungan, seperti emisi gas metana, penurunan kualitas tanah, serta penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang cukup tinggi. Kondisi ini menuntut adanya perubahan menuju sistem pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Melalui kolaborasi antara RIKOLTO Indonesia, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), dan berbagai mitra lainnya, penyusunan NIG diharapkan menjadi langkah strategis dalam mengadaptasi standar Sustainable Rice Platform ke dalam konteks nasional. Pedoman ini dirancang agar selaras dengan kondisi agroekologi, sosial, ekonomi, dan kebijakan pertanian Indonesia, sehingga dapat diterapkan secara efektif oleh petani di berbagai daerah.

Menurut Rice Project Manager RIKOLTO Indonesia, Nana Suhartana, keberadaan NIG bukan sekadar kumpulan aturan teknis, melainkan panduan yang dapat membantu petani meningkatkan kualitas budidaya sejak proses tanam hingga pascapanen. Dengan pendekatan tersebut, petani diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Kehadiran pedoman ini juga menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk membangun masa depan pertanian Indonesia yang lebih kuat dan tangguh.

Workshop tersebut melibatkan National Working Group (NWG) SRP Indonesia, Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Padi, serta sejumlah pakar agronomi. Fokus utama kegiatan adalah memvalidasi rancangan awal NIG yang mencakup prinsip, kriteria, dan indikator keberlanjutan. Selain itu, forum ini juga menjadi wadah untuk menghimpun masukan yang akan memperkuat proses advokasi agar pedoman tersebut dapat diterima oleh sekretariat SRP maupun pemerintah Indonesia.

Dalam pembahasannya, peserta menelaah berbagai persyaratan penting yang berkaitan dengan pengelolaan lahan dan air, penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pengendalian hama terpadu, hingga keselamatan dan kesehatan kerja petani. Sejumlah kesepakatan dicapai, seperti penyusunan standar operasional berbasis kalender tanam, kewajiban pencatatan kegiatan selama satu musim tanam, serta penyesuaian terminologi teknis agar lebih sesuai dengan praktik yang berlaku di lapangan. Beberapa isu lain, seperti kadar kelembapan gabah dan teknik pengeringan, juga menjadi perhatian untuk disesuaikan dengan karakteristik wilayah yang beragam.

Dukungan terhadap penyusunan NIG turut disampaikan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN). Lembaga tersebut menilai bahwa berbagai persyaratan dalam SRP berpotensi menjadi dasar pengembangan Standar Nasional Indonesia (SNI) di masa mendatang. Hasil workshop akan digunakan untuk menyempurnakan dokumen sebelum memasuki tahap konsultasi lanjutan dengan para ahli. Melalui pedoman yang relevan dengan kondisi nasional dan didukung kolaborasi berbagai pihak, Indonesia diharapkan mampu membangun sistem produksi padi yang lebih produktif, berdaya saing, sekaligus berkontribusi pada upaya mitigasi perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....