Deflasi usai Lebaran, Harga Pangan di Kota Bogor Mulai Turun
- 13 Mei 2026 16:30 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bogor mencatat kondisi inflasi di Kota Bogor mulai melandai dan berubah menjadi deflasi setelah periode Ramadan dan Idulfitri 2026 berlalu. Penurunan harga sejumlah komoditas pangan menjadi faktor utama terjadinya deflasi pada April 2026.
Kepala Badan Pusat Statistik Kota Bogor, Raden Gandari mengatakan, selama Ramadan hingga Lebaran terjadi peningkatan permintaan masyarakat terhadap berbagai kebutuhan pokok. Kondisi itu memicu kenaikan harga dan mendorong inflasi.
“Ketika permintaan meningkat sementara pasokan terbatas, harga akan naik. Saat Ramadan dan Lebaran kemarin, konsumsi masyarakat memang meningkat sehingga inflasi cukup tinggi,” ujarnya dalam dialog Beranda Asta Cita di Pro 1 RRI Bogor, Rabu, 13 Mei 2026.
Namun, setelah momentum hari besar keagamaan berlalu, harga sejumlah komoditas mulai kembali normal. BPS mencatat kondisi tersebut membuat Kota Bogor mengalami deflasi pada April 2026.
Menurut Gandari, komoditas yang sebelumnya mengalami kenaikan kini mulai turun, seperti daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit. Penurunan harga terjadi karena permintaan masyarakat kembali stabil dibandingkan saat Ramadan dan Lebaran.
Ia menjelaskan, kelompok pangan bergejolak atau volatile food masih menjadi penyumbang utama perubahan inflasi di Kota Bogor. Komoditas pangan segar dinilai sangat sensitif terhadap perubahan permintaan dan distribusi.
Selain faktor konsumsi masyarakat, kondisi cuaca dan distribusi barang juga memengaruhi stabilitas harga di Kota Bogor. Gandari menyebut Kota Bogor masih bergantung pada pasokan dari luar daerah sehingga gangguan distribusi dapat memicu kenaikan harga.
“Ketika banjir maupun hambatan distribusi terjadi, pasokan barang ke pasar dapat terganggu sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga. Kota Bogor ini masih banyak bergantung pada pasokan dari luar,” katanya.
BPS juga mencatat sektor transportasi mulai kembali stabil setelah lonjakan tarif pada masa arus mudik Lebaran. Meski demikian, terdapat penyesuaian harga pada komoditas tertentu yang diatur pemerintah, seperti LPG non-subsidi.
Gandari menilai kondisi deflasi saat ini menunjukkan daya beli masyarakat relatif masih terjaga. Meski begitu, masyarakat tetap diimbau bijak dalam berbelanja agar stabilitas harga tetap terkendali.
“Jangan sampai konsumsi dipicu karena FOMO. Permintaan yang berlebihan bisa membuat harga kembali naik,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....