Ekonom Celios: Era Petroyuan (Tiongkok) akan Terjadi, Dolar Mulai Mengkhawatirkan

  • 02 Apr 2026 12:15 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Era Petroyuan, yaitu penggunaan mata uang Yuan China (CNY) dalam transaksi perdagangan minyak global, ditandai sebagai tantangan serius bagi dominasi Petrodolar AS. Dinamika ini didorong oleh kebijakan strategis China untuk melepas ketergantungan dari Dolar AS dan meningkatnya kerja sama energi dengan negara-negara penghasil minyak seperti Iran.

Era ini mencuat akibat strategi perdagangan China yang agresif dan pergeseran geopolitik di Timur Tengah. Mata uang Yuan China (CNY) mulai digunakan secara resmi dalam kontrak minyak sebagai alternatif dari Dolar AS (USD), dominasi Petrodollar yang sudah ada sejak tahun 1970-an mulai goyah, meningkatkan pengaruh ekonomi China di pasar energi global.

Penarikan AS dari beberapa kawasan dan kebijakan sanksi mendorong produsen minyak untuk melirik mekanisme pembayaran non-dolar. Pergeseran ini memang belum tentu terjadi dalam waktu dekat. Namun, perang yang sedang berlangsung dinilai bisa menjadi pemicu yang mempercepat tekanan terhadap petrodollar, sekaligus membuka ruang lebih besar bagi munculnya petroyuan.

Dalam skenario terburuk, minyak Timur Tengah yang mengalir ke Asia melalui Selat Hormuz bisa makin banyak dihargai dan diperdagangkan dalam yuan, sementara minyak dari Barat yang dijual ke sekutu tradisional AS tetap memakai dolar. Jika itu benar-benar terjadi, sistem harga minyak global tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada dolar seperti selama ini.

Di sinilah posisi yuan menjadi menarik. Mata uang China itu memang belum menjadi pengganti dolar, tetapi mulai dipandang sebagai salah satu mata uang yang berpotensi mendapat ruang lebih besar jika pola perdagangan energi dunia berubah, gambaran itu juga mulai terlihat dalam data terbaru International Monetary Fund (IMF).

Analisi tersebut juga disampaikan oleh Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan bahwa ada mata uang yang paling untung disaat kondisi geopolitik seperti sekarang saat ini, sepertu mata uang yuan.

“Bukan dolar, karena 90 persen minyak Iran itu dijual ke China dan sekarang iran meminta alat pembayarannya menggunakan yuan bukan dolar, untuk menghindari saksi negara barat,” ucapnya pada Kamis, 2 April 2026.

Hal ini merupakan cara efektif untuk melakukan dedolarisasi dan kedepan tidak hanya minyak, karena komponen eergi terbaruakan seperti panel surya akan mereka beri dari china dengan menggunakan yuan. Jika keamanan jalur energi global mulai goyah, maka fondasi sistem lama yang selama ini menopang petrodollar juga ikut melemah. Apalagi, Selat Hormuz sebagai salah satu jalur terpenting perdagangan minyak dunia kini ikut terdampak. Jika arus energi terganggu di titik ini, efeknya bisa menjalar ke harga minyak, inflasi, hingga pasar keuangan global.

Data IMF memperlihatkan bahwa tekanan itu bukan sekadar cerita geopolitik. Pangsa cadangan devisa dunia yang berdenominasi dolar AS turun menjadi 56,77% pada kuartal IV-2025, lebih rendah dibanding 56,93% pada kuartal III-2025. Jika ditarik sepanjang 2025, arahnya juga sama. Pada kuartal I-2025, porsi dolar masih berada di kisaran 57,79%, lalu turun ke 56,32% pada kuartal II-2025, sebelum bergerak di sekitar 56,9% pada paruh kedua tahun lalu dan menutup tahun di 56,77%. Dengan level ini, porsi dolar berada di titik terendah sejak pertengahan 1990-an. Ini berarti dominasi dolar memang masih besar, tetapi terus terkikis secara bertahap

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....