Ilmuwan Temukan ‘ID Card’ Kimiawi Tersembunyi dalam Urine Kucing

  • 06 Okt 2026 21:57 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Urine ternyata bukan sekadar limbah bagi kucing. Penelitian terbaru menemukan adanya senyawa kimia tertentu yang berpotensi berfungsi seperti “kartu identitas”, sehingga membantu kucing mengenali individu lain melalui aroma yang ditinggalkan.

Mengutip laman ScienceDaily, penelitian yang dilakukan ilmuwan dari Jepang, Jerman, dan Spanyol menemukan 13 jenis asam lemak bercabang atau branched-chain fatty acids (BFAs) dalam urine kucing. Pola senyawa tersebut berbeda antara satu kucing dan kucing lainnya, tetapi cenderung tetap konsisten pada individu yang sama.

Kondisi tersebut membuat para peneliti menduga pola BFAs dapat menjadi semacam tanda kimia yang membawa informasi mengenai identitas seekor kucing. Temuan ini berasal dari penelitian yang dipimpin oleh Iwate University dan akan dipublikasikan dalam jurnal Current Biology.

Untuk mengetahui apakah kucing dapat membedakan pola tersebut, peneliti melakukan pengujian terhadap respons hewan ketika diperkenalkan dengan berbagai sampel urine. Dilaporkan bahwa kucing yang telah terbiasa dengan satu sampel kembali menunjukkan ketertarikan lebih besar ketika diberikan urine dari kucing yang berbeda.

Peneliti kemudian memisahkan bagian urine yang mengandung BFAs dari komponen lainnya. Ketika pola BFAs diubah, kucing yang sebelumnya sudah terbiasa dengan sampel kembali meningkatkan aktivitas mengendus. Hasil tersebut memperkuat dugaan bahwa senyawa tersebut berkaitan dengan informasi identitas, bukan sekadar menjadi bagian dari aroma urine.

ScienceDaily juga menyebut senyawa BFAs memiliki sifat yang relatif tahan lama. Banyak molekul pembentuk aroma urine dapat berubah atau menguap setelah dikeluarkan, sementara BFAs yang ditemukan dalam penelitian lebih lambat menghilang. Pada sampel yang disimpan pada suhu 25 derajat Celsius, pola khas BFAs masih relatif stabil setidaknya selama 24 jam.

Penelitian tersebut juga mengungkap keberadaan BFAs di ginjal kucing. Senyawa ini ditemukan, antara lain, dalam tetesan lemak yang tersimpan di bagian korteks ginjal, meski fungsi dari penyimpanan lemak tersebut belum sepenuhnya diketahui.

Para peneliti menduga cadangan lemak tersebut mungkin membantu menjaga pola kimia urine tetap stabil. Dengan demikian, perubahan sementara akibat makanan atau kondisi tubuh kemungkinan tidak langsung mengubah tanda kimia yang menjadi ciri khas setiap individu.

Menariknya, pola senyawa serupa juga ditemukan pada beberapa anggota keluarga kucing lainnya, termasuk singa, harimau, macan tutul, jaguar, lynx, dan kucing Iriomote. Namun, penelitian ini belum membuktikan apakah satwa liar tersebut benar-benar menggunakan BFAs untuk mengenali individu tertentu.

Temuan ini masih merupakan penelitian dasar mengenai komunikasi kimia pada kucing. Meski demikian, para peneliti melihat kemungkinan pemanfaatannya di masa depan, termasuk untuk mempelajari karakteristik urine kucing maupun membantu pemantauan satwa liar secara noninvasif melalui sampel urine yang ditemukan di lingkungan.

Penelitian tersebut memberikan gambaran bahwa bagi kucing, aroma kemungkinan memiliki fungsi komunikasi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar bau. Jejak kimia yang ditinggalkan melalui urine diduga membawa informasi mengenai identitas individu, sehingga lingkungan dapat menjadi semacam “papan pesan” bagi sesama kucing.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....