Ulama K.H Mahfud: Sibuk Mencari Harta di Dunia, Jangan Sampai Bangkrut di Akhirat
- 21 Sep 2026 12:26 WIB
- Bogor
Poin Utama
- Mencari nafkah merupakan bentuk ikhtiar dan tanggung jawab kepada keluarga, tetapi tidak seharusnya membuat seseorang mengabaikan ibadah dan kewajiban agama.
- Sikap merasa sudah berada di posisi yang benar dapat membuat seseorang menutup diri dari masukan dan terus melakukan hal yang sama tanpa introspeksi.
- Muflis bukan sekadar kehilangan harta, tetapi ketika pahala amal habis karena harus diberikan kepada orang-orang yang pernah dizalimi atau disakiti. Yang tersisa justru dosa dari orang lain.
RRI.CO.ID, Bogor - Mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga merupakan tanggung jawab yang harus dijalankan. Namun, kesibukan mengejar harta duniawi dapat menjadi persoalan ketika membuat seseorang mengabaikan kewajiban agama dan melupakan bekal kehidupan akhirat.
Hal tersebut disampaikan K.H. Mahfud Hidayat, Lc., S.S.I., M.E.I., dalam kajian Islami program siaran Mutiara Pagi Pro1 RRI Bogor edisi Senin, 21 September 2026. Dalam kajian bertema “Tanda Orang yang Rugi dalam Pandangan Agama”, ia mengingatkan pentingnya menempatkan aktivitas mencari harta secara seimbang dengan kewajiban kepada Allah.
Menurut K.H. Mahfud, seseorang memang berkewajiban berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, usaha tersebut tidak berarti harus menghabiskan seluruh waktu hanya untuk mengejar harta, karena manusia pada dasarnya hanya berikhtiar, sementara persoalan rezeki merupakan ketetapan Allah.
“Ketika dia menghabiskan waktunya tidak melihat koridor agama yang harus dilakukannya, maka dia telah merugi,” ujar K.H. Mahfud.
Ia menjelaskan, kerugian tersebut dapat terjadi ketika seseorang terus mengumpulkan harta, tetapi pada saat yang sama mengabaikan hak-hak Allah. Bahkan, semakin banyak harta yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan.
“Dia mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta, nanti di akhirat justru itu akan menjadi bencana, akan dimintai pertanggungjawabannya bagaimana kamu bisa menumpuk harta sementara hak-hak Allah kamu abaikan,” jelasnya.
Selain terlalu larut dalam mengejar harta, tanda kerugian lainnya adalah sikap merasa selalu benar. Menurut K.H. Mahfud, orang yang merasa sudah berada di posisi yang benar cenderung sulit menerima masukan maupun nasihat, sehingga berpotensi terus mengulangi perilaku yang sama.
Kondisi tersebut kemudian dikaitkan dengan konsep muflis yang disampaikan Rasulullah SAW, yakni orang yang mengalami kebangkrutan di akhirat. K.H. Mahfud menegaskan, muflis dalam konteks tersebut bukan berkaitan dengan kehilangan harta, melainkan kehilangan pahala akibat perbuatan yang merugikan orang lain.
“Ketika amal ibadahnya habis, pahalanya habis, yang tersisa adalah dia menerima dosa dari orang lain yang disakitinya, yang dizaliminya. Itu adalah kategori orang yang muflis di akhirat,” katanya.
Karena itu, mencari nafkah tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan, tetapi perlu berjalan beriringan dengan ibadah dan menjaga hak sesama. Jangan sampai seseorang berhasil mengumpulkan banyak harta di dunia, tetapi justru kehilangan bekal amal untuk kehidupan akhirat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....