Warga Kalimantan Barat Dibayar untuk Jaga Kelestarian Satwa

  • 20 Sep 2026 12:08 WIB
  •  Bogor
Poin Utama
  • Warga di sejumlah desa di Kalimantan Barat kini memiliki cara berbeda untuk mendapatkan penghasilan dari aktivitas di hutan
  • Menurut Borneo Futures, dua desa secara sukarela telah menerapkan larangan berburu sejak program berjalan
  • Dengan pendekatan seperti ini, konservasi tidak hanya berfokus pada perlindungan satwa, tetapi juga menghubungkan kelestarian alam dengan penghidupan masyarakat sekitar

RRI.CO.ID, Bogor - Warga di sejumlah desa di Kalimantan Barat kini memiliki cara berbeda untuk mendapatkan penghasilan dari aktivitas di hutan. Mereka tidak lagi masuk hutan untuk berburu satwa, melainkan mencari dan mendokumentasikan keberadaan berbagai jenis hewan liar melalui foto maupun rekaman suara.

Mengutip laporan AFP yang diterbitkan pada 17 September 2026, program tersebut dijalankan oleh konsultan lingkungan Borneo Futures melalui proyek KehatiKu. Program ini melibatkan warga dari sembilan desa di Kalimantan Barat dengan memberikan imbalan atas dokumentasi satwa yang mereka temukan. Nilai pembayaran bervariasi, mulai dari sekitar Rp5.000 untuk burung umum hingga Rp130.000 untuk orangutan.

Program ini juga menghasilkan data yang dapat dimanfaatkan untuk memahami persebaran serta perubahan populasi satwa liar. Hingga September 2026, lebih dari 350 ribu observasi telah dikirimkan oleh para peserta. Sekitar separuh dari laporan tersebut telah melalui proses validasi dan mendapatkan pembayaran. Data dikumpulkan melalui sistem yang dikembangkan untuk membantu proses pelaporan dan verifikasi.

Bagi sebagian warga, kegiatan tersebut bukan sekadar aktivitas konservasi, tetapi juga menjadi sumber pemasukan tambahan. Salah satunya Octavius, warga yang sebelumnya dikenal sebagai pemburu satwa. Kepada AFP, ia menyebut pendapatan dari kegiatan observasi membantunya membiayai pendidikan anak. Pada September 2026, ia menerima sekitar Rp4 juta dari hasil pengamatan satwa.

Besarnya insentif juga berbeda berdasarkan jenis satwa yang berhasil didokumentasikan. Pengamat dengan hasil paling tinggi bahkan disebut dapat memperoleh pendapatan hingga sekitar Rp10 juta per bulan. Kegiatan tersebut tetap dapat dilakukan bersamaan dengan pekerjaan utama warga yang sebagian besar merupakan petani padi, kakao, durian, maupun tanaman kratom.

Dampak lain mulai terlihat di sejumlah desa peserta. Menurut Borneo Futures, dua desa secara sukarela telah menerapkan larangan berburu sejak program berjalan. Perubahan tersebut menunjukkan adanya upaya mengubah cara pandang terhadap satwa, dari sesuatu yang dapat diburu menjadi sumber manfaat ekonomi apabila keberadaannya tetap terjaga.

Program KehatiKu juga memberikan manfaat ekonomi bagi perempuan di wilayah peserta. Antonia Uneng, misalnya, mengatakan penghasilan dari kegiatan observasi membuatnya memiliki pemasukan sendiri. Sementara itu, warga lainnya memanfaatkan pendapatan tersebut untuk memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga. Dengan pendekatan seperti ini, konservasi tidak hanya berfokus pada perlindungan satwa, tetapi juga menghubungkan kelestarian alam dengan penghidupan masyarakat sekitar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....