Bogor Leumpunk Club Lawan Stigma lewat Aksi Positif
- 16 Agt 2026 18:41 WIB
- Bogor
Poin Utama
- Bogor Leumpunk Club menjadi wadah bagi anak muda, khususnya mereka yang banyak berasal dari lingkungan punk, untuk membangun kebiasaan hidup sehat
- Komunitas ini berusaha membuktikan bahwa penampilan maupun identitas seseorang tidak seharusnya menjadi alasan untuk memberikan stigma negatif
- Bogor Leumpunk Club untuk menunjukkan bahwa identitas dan penampilan tidak menentukan kontribusi seseorang terhadap masyarakat
RRI.CO.ID, Bogor- Bogor Leumpunk Club menjadi wadah bagi anak muda, khususnya mereka yang banyak berasal dari lingkungan punk, untuk membangun kebiasaan hidup sehat sekaligus menunjukkan sisi positif komunitas kepada masyarakat. Hal tersebut dibahas dalam program Obrolan Komunitas Pro 2 FM RRI Bogor, Rabu, 12 Agustus 2026, dengan tema “Menghapus Stigma, Merawat Raga”. Melalui aktivitas jalan kaki, olahraga bersama, menjaga kebersihan, hingga berbagai kegiatan sosial, komunitas ini berusaha membuktikan bahwa penampilan maupun identitas seseorang tidak seharusnya menjadi alasan untuk memberikan stigma negatif.
Stigma terhadap anak punk menjadi salah satu persoalan yang ingin dijawab Bogor Leumpunk Club melalui tindakan nyata. Selama ini, anak punk kerap dinilai dari penampilan tanpa melihat aktivitas dan kontribusi yang mereka lakukan. Imam alias Hayu Kemon menjelaskan bahwa komunitasnya ingin memperlihatkan bahwa anak punk juga dapat menjalani pola hidup sehat dan melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat. “Kami ingin menunjukkan bahwa anak punk juga bisa melakukan kegiatan yang positif, hidup sehat, berkumpul dengan baik, dan memberikan manfaat untuk lingkungan. Jangan hanya melihat penampilan kami,” ujarnya.
Bogor Leumpunk Club sendiri bermula dari enam orang yang memiliki semangat untuk berjalan kaki dan berolahraga bersama. Seiring waktu, kegiatan tersebut berkembang hingga jumlah peserta jalan kaki dalam kegiatan tertentu dapat mencapai sekitar 350 orang. Aktivitas rutin tersebut bahkan menjadi ruang silaturahmi dan ajang reunian bagi peserta yang sudah lama tidak bertemu. Aray menilai perkembangan tersebut bukan hanya tentang bertambahnya jumlah anggota, tetapi juga semakin luasnya ruang kebersamaan yang terbentuk. “Awalnya cuma enam orang, sekarang bisa sampai ratusan. Yang penting bagi kami bukan hanya jumlahnya, tetapi bagaimana orang-orang bisa bertemu, berkumpul, dan melakukan kegiatan yang positif bersama,” ungkapnya.
Menariknya, kegiatan berjalan kaki yang dilakukan komunitas juga diisi dengan aksi menjaga lingkungan. Para peserta tidak sekadar berjalan dari satu tempat ke tempat lain, tetapi turut memungut dan membersihkan sampah yang mereka temui selama perjalanan. Mereka juga memperhatikan kondisi fasilitas publik. Jika menemukan fasilitas umum yang rusak atau membutuhkan perhatian, komunitas turut mengadukannya kepada pemerintah agar dapat ditindaklanjuti. Bayu Dwi Putra mengatakan, aktivitas tersebut menjadi bentuk kepedulian sederhana yang bisa dilakukan bersama. “Ketika kami berjalan, kami juga melihat kondisi sekitar. Kalau ada sampah kami bersihkan, kalau menemukan fasilitas publik yang rusak kami sampaikan kepada pemerintah. Jadi jalan kaki ini sekaligus membuat kami lebih peduli dengan lingkungan,” tuturnya.
Semangat hidup sehat yang dibangun Bogor Leumpunk Club juga melibatkan keluarga. Para anggota tidak jarang membawa anak-anak mereka saat mengikuti kegiatan olahraga bersama. Dengan demikian, aktivitas komunitas tidak hanya menjadi ruang bagi anak muda, tetapi juga kesempatan bagi keluarga untuk melakukan kegiatan fisik sekaligus bersosialisasi. Selain aktivitas olahraga dan lingkungan, komunitas juga menjalankan berbagai program sosial, seperti kegiatan yang berkaitan dengan Museum Perjuangan serta pembagian makanan gratis kepada tunawisma dua kali setiap bulan. “Kami ingin komunitas ini punya manfaat yang lebih luas. Bukan hanya berkumpul dan olahraga, tetapi juga ada kegiatan sosial yang bisa dirasakan masyarakat,” kata Raksa.
Kepedulian sosial tersebut juga diwujudkan melalui pemberian santunan kepada sosok yang mereka sebut sebagai pejuang sampah. Sosok tersebut dinilai memiliki kontribusi dalam menjaga kebersihan lingkungan melalui aktivitasnya sehari-hari. Bagi Bogor Leumpunk Club, memberikan perhatian kepada orang-orang yang berjuang menjaga lingkungan merupakan bagian dari nilai kepedulian yang ingin mereka tanamkan. Kegiatan sosial tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa komunitas yang kerap mendapatkan stigma negatif justru memiliki perhatian terhadap persoalan sosial, lingkungan, dan masyarakat di sekitarnya.
Dari enam orang hingga mampu mengajak sekitar 350 peserta berjalan kaki, Bogor Leumpunk Club berkembang menjadi komunitas yang memadukan olahraga, silaturahmi, kepedulian lingkungan, dan kegiatan sosial. Mereka merawat kesehatan melalui jalan kaki, membawa keluarga dalam aktivitas bersama, membersihkan sampah selama perjalanan, melaporkan kerusakan fasilitas publik kepada pemerintah, serta membantu masyarakat yang membutuhkan. Perjalanan tersebut menjadi cara mereka menghapus stigma bukan melalui perdebatan, melainkan melalui aksi nyata. “Kalau ingin menghapus stigma, kami harus membuktikannya lewat kegiatan nyata,” ujar Imam alias Hayu Kemon. Pesan tersebut menjadi semangat Bogor Leumpunk Club untuk menunjukkan bahwa identitas dan penampilan tidak menentukan kontribusi seseorang terhadap masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....